Koperasi Desa Merah Putih Jadi Solusi Ekonomi dari Akar Rumput, Asalkan... .

Senin, 14 Apr 2025, 00:00 WIB

JAKARTA - Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih diharapkan menjadi katalis bagi aktivitas ekonomi, baik di tingkat lokal maupun nasional. Karenanya, dibutuhkan tata kelola dan manajemen yang jelas agar program Kopdes Merah Putih bisa berjalan sesuai mandat Presiden RI Prabowo Subianto.

"Apakah bisa Kopdes Merah Putih menjadi penggerak desa? Bisa, asal manajemennya ditata," kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Esther Sri Astuti saat dihubungi di Jakarta, Jumat (11/4).

Ket. Foto: Pembentukan Kopdes I Pekerja memindahkan susu sapi di Koperasi Unit Desa (KUD) Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu. — Sumber: ANTARA/Aloysius Jarot

Menurut Esther, koperasi dapat menjadi penggerak ekonomi jika hal-hal fundamental bisa dilaksanakan dengan baik, sehingga membuat koperasi dan para anggotanya berkembang. Bahkan dia optimistis Kopdes Merah Putih bisa membantu meringankan tekanan perekonomian yang tengah dialami oleh Indonesia.

"Saya rasa bisa, karena tidak semua masyarakat Indonesia itu bankable atau bisa mendapat pembiayaan dari bank. Jadi entah mereka tidak punya kolateral atau apa, mereka yang tidak bankable ini bisa ditampung di koperasi," kata dia.

Karenanya, lanjut Esther, pemerintah perlu membuat aturan main (rule of the game) dari badan usaha tersebut, termasuk adanya pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja koperasi.

Di sisi lain, pakar perkoperasian, Suroto mengatakan pemerintah juga harus fokus pada peningkatan kualitas layanan dan anggota, tidak hanya sekadar menambah jumlah koperasi melalui Kopdes Merah Putih yang seragam.

Hal ini pun menjadi penting agar sistem perkoperasian Indonesia tetap bisa relevan seiring dengan tren koperasi dunia yang kuantitasnya cenderung menurun.

"Tren koperasi dunia hari ini, jumlah koperasi itu menurun secara kuantitas, tapi layanan dan kualitasnya meningkat. Merger, konsolidasi ini yang seharusnya didorong oleh pemerintah," kata Suroto.

Seperti diketahui, pembentukan 80 ribu Koperasi Desa/ Kelurahan Merah Putih ditargetkan selesai akhir Juni 2025 dan diluncurkan pada 12 Juli mendatang, bertepatan dengan peringatan Hari Koperasi Nasional. Dari total 80 ribu Kopdes Merah Putih yang akan terbentuk pada Juli nanti sebanyak 40 ribu di antaranya berasal dari Pulau Jawa.

Basis Utama

Sementara itu, ekonom senior Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Hendri Saparini mengatakan kegiatan ekonomi harus menjadi basis utama dari Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih agar program ini bisa menjadi program yang berkelanjutan.

“Basisnya itu harus ada kegiatan ekonominya dulu. Karena menurut saya akan lebih organik dan lebih sustainable kalau ada kegiatannya (perekonomian desa),” kata Hendri saat di Jakarta.

Menurut dia, Kopdes Merah Putih yang berkelanjutan ini nantinya diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat ekonomi lokal di tengah tantangan dunia yang kian kompleks.

“Menghidupkan koperasi adalah sesuatu yang sangat mulia karena penting untuk mendorong ekonomi yang lebih inklusif. Namun, basis utamanya adalah ada kegiatan ekonomi terlebih dahulu yang kemudian berhimpun di dalam koperasi, bukan sebaliknya,” ujar Hendri.

Dia mencontohkan, misalnya satu desa memiliki kegiatan ekonomi yang kuat di sektor pertanian. Maka yang perlu didorong adalah pembuatan koperasi produksi atau produsen.

“Jadi, misalnya di daerah situ banyak sekali petani cabai misalnya. Maka, di situ akan dibuat Kopdes Merah Putih yang kegiatan utamanya adalah (produksi) cabai. Nah, jadi kan anggotanya bisa petani cabai, bisa pedagang cabai, bisa mereka yang mendistribusikan cabai,” jelas Hendri.

  • Koperasi Desa

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara, Muchamad Ismail

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.