Kisah Ali Muhtar, Mantan Karyawan Supermarket yang Bangun PAUD dari Uang Pesangon.

Rabu, 05 Agu 2026, 11:11 WIB

Aroma asinan Betawi, nasi uduk, telur dadar, dan gorengan memenuhi gang-gang sempit di Bidara Cina, Jakarta Timur. Matahari belum tinggi ketika penjual makanan mulai melayani pembeli, sementara anak-anak berseragam berjalan menuju sekolah.

Di antara deretan usaha kecil itu, pintu sebuah ruang belajar sederhana sudah terbuka. Dua anak usia dini berbaris memasuki kelas, duduk dan berdoa bersama, lalu belajar mengenali huruf, angka, warna, serta doa-doa pendek. Di sanalah mereka mulai mengenal arti mengucapkan "terima kasih", meminta maaf, berbagi mainan, dan menghormati orang lain.

Ket. Foto: Dua murid belajar di ruang kelas PAUD Az Zahro di kawasan Bidara Cina, Jakarta. — Sumber: Antara Foto

Tak banyak yang mengetahui bahwa ruang belajar itu dibangun dari uang pesangon seorang mantan karyawan supermarket. Lelaki itu adalah Ali Muhtar.

Setelah bekerja selama 25 tahun di sebuah supermarket di Jakarta, Ali menggunakan sebagian dana pesangonnya untuk mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di bawah naungan Yayasan Masjid Baitus Shodiqin pada 2019. 

Ketika kerja sama dengan yayasan itu berakhir pada 2024, dia memilih memulai lagi dari awal dengan mendirikan PAUD Umi Az Zahro di bawah Yayasan Wasilah Cahaya Terbit, nama yang diambil dari toko milik almarhum ayahnya. 

Keputusan itu bukan tanpa risiko. Tahun ajaran lalu PAUD Umi Az Zahro memiliki lima murid. Seluruhnya kini telah melanjutkan pendidikan ke sekolah dasar. Memasuki tahun ajaran baru, hanya dua anak yang terdaftar sebagai siswa karena di lingkungan sekitar hanya merekalah yang masih berusia PAUD.

Dengan dua murid, iuran sekolah sebesar Rp50.000 per bulan belum mampu menutup biaya operasional. Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) dari pemerintah sebesar Rp300.000 per anak setiap tahun ikut menopang kegiatan belajar, sementara kekurangannya ditutup dari penghasilan Ali dari beberapa rumah kontrakan dan usaha asinan keluarga. Honornya sebagai ketua RT juga dipakai untuk menjalankan sekolah itu.

Bagi Ali, PAUD bukan tempat mencari keuntungan. Dia ingin anak-anak di lingkungannya memiliki kesempatan belajar sejak dini sebelum memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

Selama ini dia mengandalkan dua saudara perempuannya untuk membantu mengajar, ditambah satu orang lain yang bertugas sebagai operator. Dia berencana menerima lulusan sarjana yang belum dapat kerja asal punya semangat mengajar dan mau digaji seadanya.

Pilihan itu membuatnya harus bertahan mengelola sekolah dengan segala keterbatasan. Namun, selama masih ada anak yang datang untuk belajar, dia merasa pintu ruang kelas itu harus tetap dibuka.

"Kalau soal rezeki, Allah yang mengatur. Sepanjang ada usaha, InsyaAllah akan dicukupi Allah," kata pria 47 tahun itu.

Apa yang dilakukan Ali ternyata bukan cerita yang berdiri sendiri. Di Bidara Cina, sedikitnya terdapat 23 PAUD yang sebagian besar dikelola secara sederhana oleh tim kecil yang terdiri atas kepala sekolah, guru, dan operator.

Rutinitas mereka hampir sama setiap hari. Sebelum murid datang, ruang kelas dibersihkan dan alat peraga disiapkan. Setelah kegiatan belajar sekitar dua jam berakhir, pekerjaan mereka belum selesai. Urusan administrasi masih harus diselesaikan, bahan ajar untuk esok hari disiapkan, sementara sebagian besar guru kembali menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga.

Yang terlihat setiap pagi hanyalah senyum mereka saat menyambut anak-anak. Namun di balik itu, ada kelelahan, tanggung jawab di rumah, dan berbagai persoalan yang tidak selalu tampak di ruang kelas.

Keterbatasan dan tantangan yang dialami Ali dan para pendidik di Bidara Cina mengundang kepedulian pihak luar. Sebuah lokakarya kemudian digelar oleh Unit TJSL BUMN kelompok IDSurvey bersama Yayasan SUKRI lewat Program PERMATA (Perempuan Mandiri, Tangguh, dan Berdaya) khusus bagi para guru PAUD di Bidara Cina. 

Sebanyak 20 guru mengikuti lokakarya itu, yang menggabungkan sesi berbagi pengalaman dan pelatihan membuat alat peraga edukatif, selama dua hari. Mereka berkesempatan untuk saling mendengarkan, beberapa di antaranya mengaku lebih lega setelah menceritakan beban yang selama ini dipendam.

Bagi Ali Muhtar dan para guru PAUD Umi Az Zahro, dukungan pihak lain dalam bentuk apa pun menjadi penyemangat mereka untuk terus mempertahankan keberadaan sekolah bagi anak-anak usia dini.

Namun, pekerjaan sesungguhnya selalu dimulai ketika pagi datang. Saat aroma makanan kembali memenuhi gang-gang Bidara Cina, pintu PAUD Umi Az Zahro kembali dibuka. Anak-anak datang satu per satu dengan tas kecil di punggung mereka.

Jumlah murid memang sedikit. Iuran yang dibayarkan orang tua dan bantuan pemerintah belum dapat menutup seluruh biaya operasional sekolah. Namun bagi Ali, keadaan itu belum cukup menjadi alasan untuk menutup ruang belajar yang telah dirintisnya.

Memang hanya ada dua anak yang duduk di ruang kelas PAUD Umi Az Zahro setiap pagi, tetapi bukan berarti masa depan mereka tak layak untuk diperjuangkan.

"Orang baik adalah orang yang bermanfaat buat orang lain," kata Ali.

Redaktur: Yebdi Trismar

Penulis: Yebdi Trismar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.