Serukan Tetap di Kampung dan Membangun Desa
📅 Jumat, 11 Apr 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim PenulisLalu bagaimana dengan pengawasan selama masa libur Lebaran, terutama di tempat wisata yang sering jadi tujuan pemudik?
Kita tahu bahwa selain bersilaturahmi, banyak warga memanfaatkan libur untuk berwisata. Maka dari itu, kami juga meningkatkan pengawasan di berbagai tempat wisata. Kami sudah koordinasi dengan jajaran TNI, Polri, BPBD, dan SAR. Karena kita masih dalam musim pancaroba, antisipasi harus disiapkan. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Keamanan dan keselamatan pengunjung adalah prioritas. Semua pihak sudah bersinergi—baik dari provinsi maupun kabupaten/kota.
Program mudik dan balik gratis ini tampaknya sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat?
Banyak warga, terutama para pekerja informal seperti tukang ojek, pedagang kaki lima, dan buruh harian, merasa terbantu. Salah satu peserta bahkan mengatakan, tanpa program ini, dia harus merogoh kocek 250 ribu sampai 400 ribu rupiah untuk sekali perjalanan. Sekarang bisa mudik dan balik gratis, sangu-nya utuh, dan bisa dimanfaatkan untuk keluarga. Inilah bukti nyata kepedulian Pemprov Jawa Tengah. Tahun depan, tentu akan kami tingkatkan lagi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Apa kesan Bapak terhadap sinergi lintas sektor dalam menyukseskan arus mudik dan balik tahun ini?
Luar biasa. Semua pihak bekerja sama dengan sangat baik—dari kepolisian, TNI, Dishub, BPBD, SAR, hingga relawan. Saya ucapkan terima kasih atas kolaborasi ini. Berkat sinergi ini, kita bisa menghindari kemacetan besar, menjaga ketertiban, dan memberikan rasa aman kepada masyarakat. Inilah contoh nyata ketika semua elemen bekerja dalam satu visi pelayanan kemanusiaan.
Apa harapan Bapak untuk masyarakat Jawa Tengah pasca-Lebaran?
Sebaiknya Anda baca juga:
Harapan saya sederhana namun sangat penting. Mari kita jaga semangat gotong royong, pulang dari perantauan dengan semangat baru untuk membangun desa dan daerah masing-masing. Jawa Tengah adalah rumah kita bersama, mari kita bangun bersama-sama. Jangan hanya menggantungkan harapan pada luar daerah, tapi kita ciptakan harapan itu di sini, di kampung halaman sendiri.
Bapak beberapa kali menyinggung soal peran pekerja informal. Mengapa kelompok ini menjadi perhatian khusus dalam program mudik dan balik gratis?
Karena mereka adalah pejuang ekonomi rumah tangga. Pekerja informal seperti tukang ojek, pedagang kaki lima, dan buruh harian adalah tulang punggung keluarga masing-masing. Mereka bekerja keras di ibu kota demi menghidupi keluarga di kampung halaman. Jadi, perhatian pemerintah kepada mereka adalah bentuk penghargaan atas perjuangan mereka. Melalui mudik gratis ini, kami ingin mereka pulang dengan bahagia, tanpa beban ongkos besar, dan membawa sangu yang masih utuh untuk kebutuhan lebaran dan kehidupan setelahnya.
Pemprov Jateng fasilitasi ribuan warga kembali ke Jakarta dan Bandung usai Lebaran, dengan program Giat Balik Rantau 2025 dan apa yang melatarbelakangi digelarnya program Giat Balik Rantau 2025 ini?
Program ini adalah bentuk kepedulian kami, Pemprov Jawa Tengah, kepada masyarakat perantau, khususnya mereka yang bekerja di sektor informal—seperti buruh, pembantu rumah tangga, pedagang kecil, dan sebagainya. Mereka ini adalah pejuang ekonomi keluarga yang selama ini berjuang di kota-kota besar. Kami ingin memberikan kemudahan dan memastikan mereka bisa kembali ke tempat kerja dengan aman, nyaman, dan tentunya gratis.
Apa saja fasilitas yang disediakan dalam program ini, dan ke mana saja tujuannya?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!