Masyarakat Madura Melestarikan Tradisi 'Tellasan Katopa''
📅 Senin, 07 Apr 2025, 22:10 WIB | Oleh: OpikTidak ada literatur khusus mengenai sejarah dan filosofi dari tellasan katopa' yang dirayakan oleh masyarakat dengan budaya dan berkomunikasi dengan bahasa Madura itu.
Beberapa sesepuh Madura hanya menjelaskan bahwa tellasan ini merupakan ranah perayaan kegembiraan bagi umat Islam yang mengerjakan puasa sunah Syawal selama 6 hari, yakni dari tanggal 2 hingga 7 Syawal, setelah mereka menyelesaikan puasa Ramadhan selama satu bulan, yang kemudian dirayakan dengan Idul Fitri.
Hanya saja, leluhur di Madura tidak melarang mereka yang tidak mengerjakan puasa sunah Syawal untuk ikut menikmati tellasan katopa'.
Tellasan katopa' adalah tradisi terbuka untuk merayakan kebahagiaan, sekaligus merajut kebersamaan dalam jalinan kekerabatan dan kemasyarakatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain untuk perayaan, tellasan katopa' juga memiliki nilai sosial yang kuat karena ada tradisi saling berbagi yang menyertai perayaan atas "keberhasilan" menjalani ibadah sunah puasa 6 hari itu.
Pada perayaan Idul Fitri, saling berkunjung ke rumah orang lain untuk saling bermaafan dan berbagi makanan, biasanya berlangsung selama 7 hari. Tradisi itu dimulai pada hari H Idul Fitri, yakni setelah masyarakat melaksanakan ibadah sunah Shalat Id, mereka saling berkunjung ke rumah saudara dan tetangganya.
Karena saling berkunjung itu tidak selesai dilakukan dalam satu hari, maka kemudian dilanjutkan pada esok hari atau bahkan, beberapa hari setelahnya, kemudian berakhir setelah tellasan katopa'. Karena dilaksanakan pada hari ketujuh setelah Idul Fitri, maka tellasan katopa' juga biasa disebut sebagai tellasan petto' (tujuh).
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain menjadi tradisi perayaan kebahagiaan bagi masyarakat yang tinggal di pulau itu, tellasan katopa' juga menjadi pengikat rindu bagi warga asal Pulau Madura yang merantau untuk pulang ke kampung halaman.
Ketika warga Madura perantau pulang kampung untuk beridul fitri, biasanya mereka menunggu selesainya tellasan katopa' untuk kembali ke tempat perantauan.
Selain penjelasan lisan dari leluhur, keterangan lain menyebut bahwa makanan ketupat merupakan warisan dari Sunan Bonang, salah satu tokoh dari wali sembilan penyebar ajaran Islam di tanah Jawa. Sunan Bonang dikenal hidup dan berkiprah di wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Tuban, Jawa Timur, dari 1465 hingga 1525 Masehi.
Sunan Bonang memperkenalkan tradisi itu sebagai ekspresi kesyukuran atas karunia dari Allah karena umat Islam diberi kemampuan untuk melaksanakan ibadah puasa satu bulan penuh. Ketupat menjadi menu makanan saat umat Islam merayakan Idul Fitri.
Sebagaimana ajaran-ajaran luhur lain dari proses penyebaran nilai-nilai agama di Nusantara, ketupat juga memiliki makna khusus yang diselipkan oleh Sunan Bonang untuk dijadikan pedoman hidup bagi masyarakat Islam di tanah Jawa. Kata ketupat, dalam bahasa Jawa adalah kupat yang bermakna laku sing papat atau amalan yang empat.
Amalan yang empat itu adalah "lebar, lebur, luber, dan labur". Lebar memiliki makna kita telah menyelesaikan amalan puasa, lebur berarti terhapus semua dosa, luber adalah keberlimpahan pahala, dan labur berarti diri yang sudah suci.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!