Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Masyarakat Madura Melestarikan Tradisi 'Tellasan Katopa''

8 Senin, 07 Apr 2025, 22:10 WIB | Oleh:
Masyarakat Madura Melestarikan Tradisi 'Tellasan Katopa'' Masyarakat Madura Melestarikan Tradisi 'Tellasan Katopa'' Doc: ANTARA/Masuki M Astro
Ket. Seorang perempuan di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, sedang merapikan selongsong ketupat yang akan dipergunakan untuk menyambut "tellasan katopa'" di Madura, Jumat (4/4) .

PAMEKASAN - Sejumlah perempuan di sebuah dusun di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Jumat (4/4/2025) malam berkumpul sambil menganyam daun kelapa atau daun pohon siwalan untuk dijadikan selongsong ketupat.

Para perempuan di Dusun Petang, Desa Lancar, Kecamatan Larangan, Pamekasan, itu sedang mempersiapkan datangnya lebaran ketupat, yang dalam bahasa Madura disebut sebagai tellasan katopa'. Tellasan bermakna hari raya, sedangkan katopa' atau topa' adalah ketupat.

Mengandalkan kelincahan sepuluh jari di tangan kanan dan kiri, para perempuan itu bekerja sambil memperbincangkan kehidupan keluarganya secara santai dan tidak terjebak pada perilaku "ghibah" atau memperbincangkan kekurangan dan kesalahan orang lain.

Keluarga itu membuat anyaman ketupat lebih awal atau sebelum tanggal 8 Syawal pada kalender Hijriah, karena keluarganya yang mudik ada yang akan kembali ke perantauan lebih awal untuk kembali bekerja.

Kalau pada 2025 ini Idul Fitri jatuh pada Senin (31/3), maka tellasan katopa dirayakan juga pada hari yang sama sepekan setelah Lebaran, Senin (7/3).

Biasanya, kaum perempuan di Madura membuat selongsong ketupat pada siang hari, yakni satu hari sebelum hari tellasan katopa', dan dimasak pada malam harinya.

Dengan dimasak pada malam hari, pada hari H tellasan katopa', kaum perempuan melaksanakan tradisi ter-ater (antar-antar) makanan dari ketupat sejak pagi hari ke tetangga dan kerabat dekat. Untuk keluarga yang tinggalnya lebih jauh, biasanya ter-ater dilakukan pada siang hingga malam hari.

Kalau di daerah lain, ketupat identik dengan lauk opor, tradisi di Madura umumnya menyandingkan ketupat dengan soto ayam. Meskipun demikian, karena pengaruh zaman, masyarakat Madura mulai mengadaptasi masakan opor yang berbahan dasar dari tahu tempe dengan santan kelapa itu.

Demikian juga dengan ketupat. Masyarakat Madura tidak hanya terpaku pada ketupat dengan selongsong daun kelapa atau siwalan. Mungkin karena alasan praktis, mereka juga ada yang membuat makanan sejenis itu, yakni lontong, dengan selongsong dari daun pisang.

Di sisi lain, ketika kaum perempuan menyelesaikan pembuatan selongsong ketupat, kaum laki-laki di emperan rumah yang luas itu juga berkumpul sambil menikmati minuman kopi dan jajanan yang disajikan dalam toples. Maklum, malam itu masih dalam suasana Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Tellasan katopa' merupakan tradisi kuno yang mungkin sudah melintasi ratusan generasi atau sekitar 500 tahun lalu, yang kini masih dilestarikan oleh masyarakat Madura. Masyarakat Madura selama ini memang dikenal kuat memegang teguh ajaran agama Islam dan melestarikan tradisi lokal.

Tellasan katopa' memang khas ada di masyarakat di Pulau Madura, baik yang masih tinggal di pulau itu maupun yang sudah bermigrasi ke daerah lain di luar pulau yang dulu dikenal sebagai Pulau Garam, tempat tradisi karapan sapi tumbuh dan lestari.

Meskipun kehidupan di pulau yang masyarakatnya dikenal sebagai pekerja keras dan ulet itu agamis, bukan berarti tellasan katopa' merupakan kebiasaan dalam agama Islam, apalagi dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad Saw.

Bukan hanya tradisi perayaannya yang tidak ada dalam sejarah Islam yang dilakukan oleh Rasulullah, jenis makanan yang disediakan untuk perayaan lebaran itu juga tidak terkait dengan sejarah praktik keberislaman Nabi Muhammad Saw, karena masyarakat di negara Arab tidak mengenal makanan bernama ketupat.

Tidak ada literatur khusus mengenai sejarah dan filosofi dari tellasan katopa' yang dirayakan oleh masyarakat dengan budaya dan berkomunikasi dengan bahasa Madura itu.

Beberapa sesepuh Madura hanya menjelaskan bahwa tellasan ini merupakan ranah perayaan kegembiraan bagi umat Islam yang mengerjakan puasa sunah Syawal selama 6 hari, yakni dari tanggal 2 hingga 7 Syawal, setelah mereka menyelesaikan puasa Ramadhan selama satu bulan, yang kemudian dirayakan dengan Idul Fitri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
Advertisement
Jakarta National Championship Pencak Silat 2026: Ajang Cetak Bibit Unggul Pesilat Muda

Jakarta National Championship Pencak Silat 2026: Ajang Cetak Bibit Unggul Pesilat Muda

08 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.