Konsekuensi Pemangkasan Anggaran Keselamatan Transportasi Mulai Muncul, Perlu Evaluasi Serius karena Insiden Balon Udara Kian Mengkhawati
📅 Minggu, 06 Apr 2025, 16:39 WIB | Oleh: Henri pelupessy
Doc: koran jakarta/henri pelupessy
SEMARANG - Dampak pemangkasan anggaran keselamatan transportasi mulai menunjukkan konsekuensi nyata di lapangan. Tidak adanya sosialisasi langsung dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait bahaya balon udara tahun ini menyebabkan sejumlah insiden yang semakin mengkhawatirkan.
Salah satu kejadian terjadi di Dusun Bancang, Desa Gandong, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur. Sebuah rangkaian balon udara yang dilengkapi petasan jatuh dan meledak di kawasan pemukiman.
Akibatnya, satu rumah warga dan sebuah mobil mengalami kerusakan parah. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
KNKT mengonfirmasi bahwa tahun 2025 mereka tidak melakukan sosialisasi langsung seperti tahun-tahun sebelumnya.
Hanya ada imbauan melalui media sosial dan komunikasi terbatas ke komunitas penggiat balon. Langkah ini diambil akibat pemangkasan anggaran sosialisasi di sektor keselamatan transportasi (KNKT, April 2025).
Sebaiknya Anda baca juga:
Tak hanya itu, sepanjang masa Lebaran 2025, tercatat 19 laporan gangguan akibat balon udara liar yang dapat mengancam keselamatan penerbangan.
Meskipun kejadian seperti ini bukan hal baru, tren berulang setiap tahun menunjukkan bahwa upaya pencegahan yang konsisten sangat dibutuhkan.
Fenomena balon udara liar bukan hanya ancaman teknis bagi penerbangan, tetapi juga potensi bencana yang menyentuh langsung keselamatan masyarakat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ketika balon membawa muatan petasan, risikonya meningkat berkali lipat: dari gangguan navigasi udara hingga ledakan yang merusak properti warga.
Tanpa kehadiran langsung sosialisasi di tengah masyarakat, pemahaman mengenai bahaya ini sulit terbentuk secara merata.
Menanggapi situasi ini, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, menyoroti dampak langsung dari kebijakan pengurangan anggaran keselamatan.
“Dampaknya sudah bisa kita lihat jelas tahun ini. Sosialisasi yang dulunya langsung ke masyarakat kini hanya sebatas digital, padahal tidak semua warga menjangkau informasi dari media sosial. Ini bukan hanya soal tradisi, tapi sudah menyangkut nyawa dan keselamatan publik,” ujar Djoko, Minggu (6/4).
Menurut Djoko, sosialisasi lapangan memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat, terutama di daerah-daerah yang selama ini rutin menerbangkan balon udara sebagai bagian dari perayaan Lebaran.
“Ketika pendekatan preventif dikurangi, maka potensi risiko meningkat. Pemerintah perlu menyadari bahwa biaya untuk pencegahan jauh lebih murah dibandingkan menanggung akibat dari kecelakaan atau kerusakan yang terjadi,” tegasnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!