Riset: Pulau Jawa Produsen Sekaligus Konsumen Jejak Emisi Terbesar di Indonesia
📅 Jumat, 28 Mar 2025, 16:00 WIB | Oleh: Tim PenulisSementara itu, pada grafik penggunaan air (tengah) dan lahan pertanian (kanan), distribusi titik-titik tersebut cenderung tersebar di bawah garis 45°. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu pengekspor air dan lahan pertanian di tingkat global.
Data ini didukung oleh analisis gambar di bawah, yang menunjukkan distribusi jejak lingkungan dan kaitannya dengan perdagangan antardaerah. Aliran berwarna abu-abu muda menujukan konsumsi domestik, sedangkan aliran berwarna abu-abu tua menunjukkan dinamika impor-ekspor jejak lingkungan atau perdagangan antardaerah.
Temuan paling mencolok dari gambar tersebut adalah Pulau Jawa mendominasi produksi dan konsumsi barang produksi beremisi tinggi, penggunaan air, sekaligus menjadi eksportir jejak lingkungan terbesar. Sedangkan, Pulau Sumatra dan Kalimantan merupakan produsen utama jejak lahan pertanian dengan Pulau Jawa merupakan importir dalam negeri terbesar produk-produk intensif lahan pertanian.
Daerah kaya berkontribusi lebih besar pada perubahan iklim
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian ini juga mencoba melihat korelasi antara konsumsi emisi gas rumah kaca, air, dan lahan pertanian dengan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita, sebagai proksi tingkat pembangunan daerah.
Terlihat PDRB per kapita berbanding lurus dengan produksi emisi gas rumah kaca dan penggunaan air. Semakin tinggi pendapatan daerah, semakin banyak CO? yang dikonsumsi dan juga air yang digunakan.
Temuan ini sesuai dengan temuan di beberapa penelitian sebelumnya, di mana daerah yang lebih kaya, seperti daerah perkotaan, memiliki gaya hidup dan pola konsumsi yang lebih intensif emisi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kesimpulannya, peningkatan polusi CO? dan penggunaan air meningkat sejalan dengan laju pertumbuhan ekonomi. Dan meski tidak selalu bergantung pada pertanian, daerah kaya sumber daya alam mendatangkan produk-produk pertanian dari luar daerah untuk konsumsi mereka. Hal ini merupakan tantangan besar bagi Indonesia yang memiliki komitmen untuk mencapai emisi nol bersih setidaknya tahun 2060.
Implikasi terhadap kebijakan publik
Kerusakan lingkungan yang terjadi di daerah-daerah yang kaya sumber daya alam, seperti Sumatra dan Kalimantan, juga disebabkan tingginya konsumsi dan permintaan dari tempat lain, seperti Pulau Jawa.
Oleh karenanya, daerah-daerah yang merupakan produsen jejak lingkungan tinggi perlu mengimplementasikan kebijakan yang menyasar produsen, misalnya dengan menciptakan kawasan industri emisi nol bersih serta menegakkan atau mewajibkan standar lingkungan, seperti standar industri hijau yang lebih ketat dan mewajibkan eco-labelling.
Untuk daerah-daerah konsumen jejak lingkungan yang tinggi, kebijakan harus dititikberatkan pada konsumsi dan pengadaan untuk memastikan kemudahan akses pada produk yang berkelanjutan, seperti subsidi barang rendah karbon atau, sebaliknya, pajak karbon.
Dua hal ini tentu relevan untuk Pulau Jawa karena pulau ini merupakan produsen dan konsumen jejak lingkungan terbesar di Indonesia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!