Diversifikasi Ekonomi Harus Dipacu, OJK Bali Kembangkan Pertanian sebagai Pilar Baru, Jangan Hanya Bertumpu pada Pariwisata!
📅 Jumat, 21 Mar 2025, 14:24 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Gembong Ismadi
DENPASAR - Daerah perlu melakukan diversifikasi sumber perekonomian guna memperkuat ketahanan wilayah maupun nasional dari risiko krisis. Dengan demikian, daerah tidak hanya bertumpu pada satu sumber ekonomi.
Jika sektor satu terpuruk, maka daerah masih punya banyak sektor untuk bertahan atau bahkan memacu kinerja perekonomian. Untuk itu, identifikasi potensi ekonomi daerah sanga penting dan mendesak untuk dilakukan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali melanjutkan program pengembangan sumber ekonomi baru untuk sektor pertanian di Pulau Dewata agar tidak dominan bertumpu kepada sektor pariwisata.
“Harapannya juga dapat meningkatkan ketertarikan lembaga jasa keuangan untuk membiayai sektor pertanian,” kata Kepala OJK Provinsi Bali Kristrianti Puji Rahayu di Denpasar, Bali, Jumat (21/3).
Ia menjelaskan, pengembangan sumber ekonomi baru itu melalui kredit/pembiayaan sektor prioritas (KSPP) termasuk pertanian di Bali yang mencakup hulu hilir termasuk upaya memitigasi risiko kegagalan panen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Regulator lembaga jasa keuangan itu tahun ini melanjutkan program pengembangan ekonomi daerah di Kabupaten Jembrana dan Tabanan untuk pertanian kakao.
Selanjutnya, sumber ekonomi baru lainnya untuk pertanian komoditas pisang cavendish dengan pola kemitraan yang dimulai di Kabupaten Bangli dan Karangasem.
Ada pun skema program KSPP, imbuh dia, para petani binaan diberikan pendampingan oleh dinas terkait dan literasi dari lembaga jasa keuangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemudian adanya kepastian produk pertanian itu terserap melalui perusahaan umum daerah atau badan usaha milik daerah (Perumda/BUMD).
Di sisi lain, potensi atas risiko kegagalan panen di mitigasi melalui skema asuransi di antaranya asuransi umum tani padi (AUTP) dan asuransi umum ternak sapi/kerbau (AUTS/K).
“Kemudian skema kredit pun beragam, ada bayar setelah panen dan beberapa skema bahkan ada yang tidak menggunakan suku bunga jadi hanya pokok tapi dibayar setelah panen,” imbuhnya.
Puji menambahkan pihaknya tidak dalam posisi mengintervensi kucuran kredit ke sektor tertentu karena mempertimbangkan manajemen risiko masing-masing bank.
Sebelumnya, Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan OJK Provinsi Bali Ananda R. Mooy mengungkapkan, kredit pertanian yang dikucurkan perbankan di Pulau Dewata per Januari 2025 komposisinya mencapai 5,36 persen.
Sebagian besar realisasi kredit diserap sektor bukan lapangan usaha atau untuk konsumtif sebesar 34,33 persen, kemudian perdagangan besar dan eceran 26,68 persen, penyediaan akomodasi makan dan minum 11,64 persen dan industri pengolahan 5,17 persen.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!