Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kalap Saat Buka Puasa Tak Hanya Menguras Dompet, Tapi Juga Memicu Bencana Lingkungan

📅 Kamis, 13 Mar 2025, 15:35 WIB | Oleh: Tim Penulis


          

2. Perburuk kondisi iklim

Selain itu, sampah makanan yang membusuk di tempat pembuangan juga menghasilkan gas metana (CH?). Gas ini memiliki efek pemanasan global 28 kali lebih kuat dari karbon dioksida (CO?), sehingga berkontribusi terhadap perubahan iklim.

3. Picu ledakan, kebakaran, dan longsor

Gas metana yang terperangkap di tumpukan sampah juga dapat terkumpul dan menciptakan tekanan tinggi. Jika tidak dikelola dengan baik, gas tersebut berisiko meledak sehingga dapat memicu kebakaran besar.

Ketika ledakan terjadi, api yang menyala akan sulit dipadamkan karena sampah organik terus menghasilkan gas metana baru. Kebakaran di landfill sering berlangsung selama berhari-hari hingga berpekan-pekan, mengeluarkan asap beracun yang mencemari udara dan membahayakan kesehatan warga sekitar.

Akumulasi sampah yang terus bertambah juga menyebabkan overload di TPA, yang dapat meningkatkan tekanan pada struktur landfill.

Apabila kelebihan beban, bencana bisa terjadi, seperti Tragedi Ledakan Leuwigajah 2005 di Jawa Barat yang menyebabkan banyak korban jiwa, hingga longsor di TPA Cipeucang.

Menekan food waste: bijak berbuka puasa

Saat Ramadan, kita perlu lebih bijak saat berbuka puasa untuk mengurangi sampah makanan langsung dari sumbernya (manusia).

Dengan mengambil makanan secukupnya, merencanakan konsumsi dengan baik, serta menghindari pembelian impulsif hanya karena promo atau porsi besar, kita bisa mengurangi limbah makanan yang tidak perlu.

Apakah mengurangi konsumsi cukup untuk mencegah bencana? Sayangnya tidak. Pengelolaan sampah organik yang sudah terlanjur ada juga harus diperhatikan.

Sebelum sampai ke tempat pembuangan akhir, sampah makanan bisa kita manfaatkan kembali, misalnya sebagai kompos untuk pertanian atau pakan ternak. Ada juga teknologi biodigester untuk mengelola sampah menjadi energi.

Pemerintah juga harus memerbaiki pengelolaan sampah di tempat pembuangan akhir. Harus ada pemantauan kualitas lindi untuk mencegah pencemaran air tanah dan penyebaran penyakit di sekitar TPA.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Belajar merangkai kain batik di Semarang

1.5 jam yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.