Kebergantungan Impor Bawang Putih Harus Dikurangi
📅 Selasa, 25 Feb 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
JAKARTA - Di tengah upaya Pemerintah mendorong swasembada pangan, Kementerian Perdagangan (Kemendag) malah menyampaikan pernyataan yang ironis yakni akan mengimpor bawang putih sebesar 21 ribu ton pada pada Maret dan pada April 2025 sebesar 14.600 ton.
Staf Ahli Bidang Iklim Usaha dan Pengamanan Pasar Kemendag, Tommy Andana dalam rapat Inflasi Daerah secara daring di Jakarta, Senin (24/2) mengatakan rencana impor itu berdasarkan informasi dari Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri.
Tommy mengatakan Kemendag telah mengumpulkan importir yang telah memiliki perizinan impor (PI) serta mengimbau agar mempercepat realisasi importasi bawang putih dan bagi importir yang barangnya sudah masuk agar segera melakukan pendistribusian.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Masyhuri yang diminta tanggapannya mengatakan kebijakan impor tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam pengelolaan sektor pertanian, khususnya dalam produksi bawang putih lokal.
Menurut Masyhuri, sekitar 90 persen kebutuhan bawang putih nasional masih dipenuhi dari impor, terutama dari Tiongkok.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Impor ini terjadi karena produksi dalam negeri belum cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Ada tantangan dalam budidaya, ketersediaan benih berkualitas, serta insentif bagi petani untuk menanam bawang putih dalam skala besar,” jelasnya.
Selain itu, harga bawang putih impor yang lebih murah dibandingkan produk lokal. Persaingan harga itu membuat bawang putih lokal kurang kompetitif di pasar, sehingga lebih sulit bagi petani dalam negeri untuk bersaing,” tambahnya.
Pemerintah sebelumnya telah mencanangkan target swasembada bawang putih untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Namun, realisasinya masih jauh dari harapan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Untuk mencapai swasembada, tidak cukup hanya dengan membatasi impor, tetapi juga harus ada kebijakan jangka panjang yang serius. Pemerintah harus memberikan insentif yang lebih konkret bagi petani, termasuk subsidi benih, pupuk, serta peningkatan infrastruktur pertanian,” kata Masyhuri.
Meskipun bawang putih tidak sepenting beras, swasembada bawang putih juga sangat penting mengingat di masa-masa tertentu harga bawang bisa melonjak sangat tinggi sehingga memberatkan konsumen. Selain benih, Masyhuri juga menekankan pentingnya irigasi agar luas lahan pertanian bawang putih meningkat.
“Selama kebijakan impor masih menjadi solusi jangka pendek, target swasembada pangan hanya akan menjadi wacana. “Jika pemerintah ingin mewujudkan kemandirian pangan, harus ada upaya lebih serius dalam membangun ekosistem pertanian yang kuat. Tanpa itu, impor akan tetap menjadi pilihan utama setiap kali ada lonjakan permintaan atau penurunan produksi dalam negeri,” katanya.
Pertanian Tradisional
Diminta pada kesempatan berbeda, pengamat pertanian dari Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa (Unwar), Denpasar, Bali I Nengah Muliarta mengatakan kebergantungan Indonesia pada impor bawang putih menjadi sorotan. Meskipun upaya memperkuat produksi dalam negeri telah dilakukan, kenyataannya masih jauh dari optimal.
“Rencana Kemendag mencerminkan ketidakmampuan kita untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik secara mandiri,”tegas Muliarta.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!