Upaya Terobosan bagi Penyelamatan Dua Badak Putih yang Tersisa di Bumi
📅 Sabtu, 22 Feb 2025, 02:30 WIB | Oleh: Tim Penulis“Upaya sel punca sudah mencapai setengah jalan,” kata Stejskal seraya memperkirakan mereka dapat menghasilkan embrio dalam waktu sekitar empat tahun.
Sementara itu, inisiatif lain di Universitas Oxford mencoba menggunakan jaringan ovarium dari badak yang mati untuk menghasilkan sel telur. Ini dapat berarti bahwa bahkan setelah Najin, 35 tahun, dan Fatu, 24 tahun, mati, para ilmuwan dapat mengambil sel telur yang belum matang dari indung telur mereka.
Dr Suzannah Williams, seorang peneliti yang memimpin upaya tersebut, mengatakan bahwa peluang terbaiknya adalah mereka dapat mengambil beberapa ratus sel telur, meskipun tidak semuanya dapat bertahan hidup. Namun para ilmuwan berharap adanya solusi saat Najin dan Fatu masih hidup untuk mengajari bayi masa depan bagaimana menjadi badak putih utara yang sejati.
Tidak seorang pun tahu seberapa besar kemungkinan upaya IVF individu akan menghasilkan kehamilan. Butuh setidaknya tiga kali percobaan untuk pengganti betina badak putih selatan, tetapi itu pun merupakan ukuran sampel yang sangat kecil. Banyak hal lain yang mungkin salah selama kehamilan badak, yang berlangsung hingga 18 bulan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Stejskal tetap optimis, dan menegaskan mereka akan menyelamatkan badak-badak tersebut, sementara Dr Williams setuju bahwa ini hanya masalah kapan, bukan apakah.
“Bahkan jika bayi lahir dari embrio, keragaman genetiknya masih terlalu rendah untuk menghidupkan kembali spesies tersebut,” kata CEO Save the Rhino International, Jo Shaw, kepada AFP.
Kemungkinan sudah terlambat untuk badak utara, kata dia, dan fokus harus diberikan pada subspesies Jawa dan Sumatera, yang masing-masing memiliki kurang dari 50 ekor yang masih hidup.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara para peneliti badak putih utara berpendapat bahwa teknik yang mereka kembangkan akan membantu semua badak, serta spesies lainnya. “Upaya BioRescue telah berkontribusi dalam menyelamatkan badak Sumatera,” kata Stejskal.
Kembali ke kandang Ol Pejeta, pawang utama Najin dan Fatu, Zacharia Mutai, berpendapat bahwa manusialah yang memburu badak putih utara hingga hampir punah, jadi merupakan tanggung jawab manusia untuk membawa mereka kembali.
Mutai, yang berada di sana ketika Sudan meninggal, mengatakan kelahiran bayi baru akan menjadi alasan untuk perayaan kegembiraan di dunia. “Dan saya akan menjaga bayi itu,” kata dia sambil tersenyum, sementara Fatu dan Najin dengan asyiknya terus mengunyah di belakangnya. AFP/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!