RI Sulit Tumbuh Tinggi Jika Terus Impor dan Tidak Membangun Ekonomi Kerakyatan
📅 Jumat, 14 Feb 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
JAKARTA - Indonesia harus meningkatkan pertumbuhan ekonomi minimal 6 persen per tahun untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi pada 2035.
Direktur Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor-Leste, Carolyn Turk mengatakan meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil di angka 5 persen, namun diperlukan reformasi lebih lanjut untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing sektor swasta.
“Indonesia diberkati dengan populasi yang besar, dan hal ini memberikan efek moderasi. Namun seiring dengan tujuan untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi pada tahun 2035, pertumbuhan tahunan harus dipercepat setidaknya menjadi 6 persen,” kata Turk dalam sebuah diseminasi “Business Ready (B-READY) 2024” di Jakarta, baru-baru ini.
Pemerintah katanya telah menargetkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari 6 persen. Namun, untuk mencapai angka tersebut, dibutuhkan berbagai reformasi regulasi dan peningkatan produktivitas di sektor manufaktur serta jasa.
Bank Dunia juga mencatat secara global, kualitas regulasi dalam perekonomian mendapat skor rata-rata 65,6 dari 100, yang menunjukkan sebagian besar negara hampir mencapai dua pertiga jalan menuju kesiapan berbisnis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Laporan juga menggarisbawahi sejumlah reformasi regulasi yang diperlukan untuk menciptakan lingkungan bisnis yang lebih kompetitif, sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi Indonesia.
Jangan Andalkan Impor
Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko yang diminta tanggapannya mengatakan target pertumbuhan 6 persen apalagi 8 persen sulit dicapai jika Indonesia masih bergantung pada impor dan belum serius membangun ekonomi berbasis kerakyatan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Aditya, struktur ekonomi Indonesia masih belum berpihak pada produksi dalam negeri.
“Selama kita terus mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan industri dan konsumsi, sulit untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Uang yang seharusnya berputar di dalam negeri malah mengalir ke luar,” kata Aditya.
Aditya menegaskan, percepatan pertumbuhan tidak bisa hanya bertumpu pada investasi besar dan sektor swasta semata. Ia menyoroti pentingnya pembangunan ekonomi dari level desa, yang menurutnya masih kurang menjadi perhatian utama pemerintah.
Ekonomi kerakyatan berbasis desa jelasnya bisa menjadi kunci untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Apalagi, mayoritas masyarakat Indonesia tinggal di desa, namun kontribusi sektor pertanian dan industri berbasis perdesaan terhadap PDB masih relatif rendah karena dukungan kebijakan yang kurang berpihak.
“Kalau kita bicara pertumbuhan 6 persen, kita tidak bisa hanya mengandalkan industri besar dan investasi asing. Kita perlu memperkuat ekonomi desa dari sektor pertanian, perikanan, hingga industri kreatif berbasis lokal. Kalau desa kuat, konsumsi masyarakat meningkat, daya beli naik, dan pertumbuhan ekonomi terjadi dari bawah ke atas,” jelasnya.
Selain itu, Aditya menyayangkan masih tingginya impor pangan, padahal Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. “Kita masih impor beras, kedelai, bahkan garam. Ini ironi, karena kita seharusnya bisa swasembada jika kebijakan mendukung petani dan nelayan lokal,” tambahnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!