- Home
-
- Luar Negeri
-
- Teknologi Satelit Bisa Men...
Teknologi Satelit Bisa Menambah PDB Asia Tenggara US$100 Miliar pada 2030
Kamis, 13 Feb 2025, 01:05 WIBSINGAPURA - Meningkatkan teknologi luar angkasa dan mengirimkan lebih banyak satelit untuk berfungsi sebagai âmata di bumiâ dapat mendatangkan lebih banyak pendapatan ke negara-negara di kawasan Asia Tenggara.Â
Laporan baru lembaga nirlaba Singapore Space and Technology Ltd (SSTL) dan firma konsultan Deloitte.yang dirilis pada Selasa (11/2) seperti dikutip dari The Straits Times, menyebutkan bahwa dengan memanfaatkan data observasi bumi, seperti citra satelit akan memberi kontribusi tambahan sebesar 100 miliar dollar AS atau 135 miliar dollar Singapura terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) kawasan tersebut pada 2030.
Disebutkan dalam laporan itu, sekitar 90 persen dari manfaat ekonomi tambahan itu diharapkan akan disalurkan ke empat industri utama yakni pertanian, pertambangan, minyak dan gas, listrik, dan tanggap darurat.
Sektor listrik dan utilitas, misalnya, dapat memperoleh keuntungan karena citra satelit dapat membantu perusahaan energi menemukan lokasi untuk ladang tenaga surya atau angin di Thailand, yang menargetkan 51 persen pembangkit listriknya berasal dari energi terbarukan pada tahun 2037.
Untuk proyek energi angin, penilaian kecepatan angin yang akurat dan menemukan tempat terbaik untuk memasang turbin sangatlah penting.
âMetode tradisional untuk mengukur kecepatan angin dan mengevaluasi wilayah yang luas melibatkan penggunaan instrumen berbasis darat yang ekstensif dan mahal. Namun, citra satelit menawarkan alternatif yang hemat biaya dengan memungkinkan analisis menyeluruh terhadap wilayah geografis yang luas,â sebut laporan itu.
Dengan bantuan data satelit itu, maka efisiensi proyek listrik hijau meningkat karena biaya berkurang dan konstruksi bisa dipercepat.
âPeningkatan produktivitas inilah yang mendatangkan sejumlah manfaat ekonomi, Michelle Khoo, salah seorang tim penulis laporan yang juga petinggi Deloitte Asia Tenggara.
Dengan menghindari biaya tambahan tambahnya merupakan cara lain untuk memperoleh nilai ekonomi. Satelit misalnya memungkinkan pemantauan berkelanjutan terhadap wilayah yang rawan topan, kebakaran hutan, banjir, dan bencana alam lainnya.
Berkat data satelit, peta yang akurat dapat dibuat untuk membantu perencanaan pemulihan baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dengan pemantauan, tindakan yang diambil lebih awal untuk mengurangi dampak bencana alam dapat mencegah kerugian infrastruktur yang parah.
Berlipat Ganda
Nilai ekonomi data obervasi bumi itu ke Asia Tenggara diperkirakan akan meningkat menjadi 15 miliar dollar AS pada 2023, lalu berlipat ganda mencapai 45 miliar dollar AS per tahun pada tahun 2030. Secara kumulatif, akan menyumbang tambahan 100 miliar dollar AS pada PDB kawasan tersebut.
Indonesia sebut laporan itu memperoleh sekitar 50 persen dari manfaat ekonomi karena sektor pertanian dan sumber daya alamnya yang luas. Salah satu penerapan teknologi satelit yang muncul adalah di pasar karbon, dan dalam memastikan bahwa kredit karbon yang dihasilkan dari proyek konservasi atau reboisasi berkualitas tinggi dan tidak ditaksir terlalu tinggi.
âUntuk observasi bumi, yang penting adalah memverifikasi bahwa kredit karbon ini didasarkan pada aktivitas nyata yang terjadi di lapangan. Jadi, ini akan membantu dalam hal memantau kualitas kredit karbon,â kata Khoo.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Megawati Soekarnoputri Resmi Terima Gelar Doktor Kehormatan di Riyadh
-
Trump akan Kirim Gugus Tempur Kapal Induk Kedua di Timur Tengah
-
Sukses Meluncur! Satelit NISAR Siap Deteksi Gempa, Longsor, hingga Perubahan Iklim Global
-
BPBD Bekasi Ingatkan Warga untuk Lebih Waspada terhadap Perubahan Cuaca Ekstrem
-
Hama Babi Hutan dan Monyet Liar Ganggu Pertanian di Lebak, Banten
-
Bali United Bermain Imbang 1-1 Lawan Persik Kediri
-
Menkomdigi: Satelit Nusantara 5 Perkuat Konektivitas Digital Nasional
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.