BPS : Kenaikan harga komoditas awal tahun picu inflasi di Kepri
Senin, 03 Feb 2025, 23:30 WIBTanjungpinang, 3/2 - BPS Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) menyatakan perkembangan harga berbagai komoditas pada Januari 2025 secara umum menunjukkan adanya kenaikan sehingga memicu terjadinya inflasi di daerah tersebut.
"Sementara tingkat inflasi Januari 2025 (m-to-m) sebesar 0,43 persen," kata Kepala BPS Kepri Margaretha Ari Anggorowati di Tanjungpinang, Senin.
Berdasarkan hasil pemantauan BPS Kepri di tiga kabupaten/kota, yaitu Batam, Tanjungpinang, dan Karimun pada Januari 2025 terjadi inflasi (y-on-y) sebesar 2,01 persen, atau terjadi kenaikan Indeks
Harga Konsumen (IHK) dari 105,69 pada Januari 2024 menjadi 107,81 pada Januari 2025.
Kepala BPS menyampaikan inflasi Kepri (y-on-y) terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya delapan indeks kelompok pengeluaran, yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau naik sebesar 3,94 persen.
Lalu, kelompok pakaian dan alas kaki mengalami kenaikan sebesar 1,86 persen, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga naik sebesar 0,02 persen, kelompok kesehatan naik sebesar 1,07 persen, dan kelompok transportasi naik sebesar 1,31 persen.
Selanjutnya, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya naik sebesar 0,37 persen, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran naik sebesar 2,36 persen, serta kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya naik sebesar 7,87 persen.
Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga turun sebesar 0,57 persen, lalu kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan turun sebesar 0,10 persen, serta kelompok pendidikan turun sebesar 1,87 persen.
Adapun komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi (y-on-y) pada Januari 2025, antara lain emas perhiasan, cabai merah, cabai rawit, sewa rumah, beras, daging ayam ras, telur ayam ras, minyak goreng, sigaret kretek mesin (skm), santan segar, akademi/perguruan tinggi, kopi bubuk, mie, mobil, ayam hidup, sigaret putih mesin (spm), nasi dengan lauk, angkutan laut, biaya pengiriman barang, sigaret kretek tangan (skt) dan lainnya.
Sedangkan komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi (y-on-y), antara lain sekolah menengah atas, tarif listrik, bayam, tomat, kangkung, sawi hijau, kacang panjang, bensin, daun bawang, sawi putih/pecay/
pitsai, bawang merah, detergen cair, pakcoy/pokcoy/bokcoy, dan sabun cair/cuci piring.
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Antara, Arif
Berita Terkait:
-
Mulai Sistem Jatah Hingga Pengurangan Hari Kerja, Negara-negara Asia Tempuh Langkah Darurat Hadapi Kenaikan Harga Minyak karena Perang Iran
-
Kawasan Transmigrasi Disisir Ulang, Kementrans Andalkan Tim Ekspedisi Patriot untuk Riset Ekonomi
-
Sambut Libur Lebaran, Promosi Wisata Digencarkan: Barito Utara Angkat Pesona Air Terjun Jantur Doyam
-
Inflasi 3,48 Persen Masuk Target, Kemendagri Soroti Harga Pangan Belum Stabil
-
Wakil Ketua Komisi VI DPR Menyatakan Stok BBM Aman karena Indonesia Punya Sumber Minyak Baru
-
Mendagri Serukan Kepala Daerah Perkuat Kesiapsiagaan Hadapi Inflasi
-
Instruksi Langsung Presiden Prabowo: Bekasi Raya Segera 'Sulap' Sampah Jadi Listrik Mulai Maret
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.