Prancis Siapkan Pangkalan Rafale F5 untuk Misi Perang Nuklir dengan Rudal Hipersonik

Selasa, 04 Agu 2026, 04:07 WIB

PARIS - Prancis mulai melakukan transformasi besar-besaran terhadap Pangkalan Udara Luxeuil-Saint-Sauveur sebagai bagian dari modernisasi kekuatan udara dan nuklirnya. Dengan investasi mencapai 1,5 miliar euro atau sekitar 32 triliun rupiah, pangkalan tersebut akan diubah menjadi pangkalan udara berkemampuan nuklir keempat milik Prancis sekaligus markas baru bagi armada Rafale F5, varian paling canggih dari pesawat tempur Rafale.

Dari Military Watch Magazine, langkah ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Paris untuk memperkuat kemampuan penangkal nuklir di tengah meningkatnya ketegangan keamanan global. Presiden Emmanuel Macron bahkan telah mengumumkan sejak Maret 2025 bahwa Luxeuil akan kembali memegang peran penting dalam misi nuklir Angkatan Udara Prancis.

Ket. Foto: Yang membuat Rafale F5 berbeda dari varian sebelumnya adalah kemampuannya membawa rudal nuklir hipersonik ASN4G, rudal generasi baru yang diproyeksikan menggantikan ASMP-A sebagai tulang punggung komponen udara dalam sistem penangkal nuklir Prancis. — Sumber: Istimewa

Targetnya, pada 2035 pangkalan tersebut akan menampung dua skuadron Rafale F5 dengan sekitar 40 pesawat tempur. Untuk mendukung operasionalnya, pemerintah Prancis akan memperbarui landasan pacu, hanggar, sistem keamanan, fasilitas operasional, hingga akomodasi personel. Jumlah personel di pangkalan itu juga akan meningkat menjadi sekitar 2.000 orang, terdiri dari militer dan sipil.

Yang membuat Rafale F5 berbeda dari varian sebelumnya adalah kemampuannya membawa rudal nuklir hipersonik ASN4G, rudal generasi baru yang diproyeksikan menggantikan ASMP-A sebagai tulang punggung komponen udara dalam sistem penangkal nuklir Prancis.

Selain mengusung rudal baru, Rafale F5 juga akan dibekali peningkatan signifikan pada sistem sensor, konektivitas, peperangan elektronik, serta integrasi berbagai jenis persenjataan. Modernisasi ini dilakukan untuk menjaga efektivitas Rafale menghadapi sistem pertahanan udara yang semakin canggih.

Karena Rafale bukan pesawat tempur siluman, Prancis mengandalkan kombinasi rudal hipersonik berkecepatan tinggi, kemampuan manuver, dan jangkauan serangan yang lebih jauh agar pesawat tetap dapat menyerang sasaran tanpa harus memasuki area pertahanan udara lawan.

Namun modernisasi ini juga mencerminkan tantangan yang dihadapi Prancis. Dibandingkan pesawat tempur generasi kelima seperti F-35 Amerika Serikat maupun J-20 Tiongkok, Rafale dinilai mulai menunjukkan keterbatasan. Kondisi itu diperkirakan akan semakin terasa ketika Tiongkok mulai mengoperasikan pesawat tempur generasi keenam pada awal dekade 2030-an, disusul Amerika Serikat dengan program F-47.

Military Watch menilai Prancis berpotensi menjadi negara pemilik senjata nuklir terakhir yang belum mengoperasikan pesawat tempur siluman, sementara negara-negara lain seperti Pakistan, India, hingga Korea Utara diperkirakan akan mulai memiliki jet tempur generasi kelima dalam beberapa tahun mendatang.

Di sisi lain, Paris tetap memilih mempertahankan kemandirian industrinya. Prancis tidak menunjukkan minat membeli F-35 buatan Amerika Serikat, sementara program pesawat tempur generasi berikutnya di Eropa masih menghadapi berbagai penundaan. Karena itu, pemerintah memilih memperpanjang usia operasional Rafale melalui pengembangan varian F5 dan pembangunan infrastruktur baru yang dirancang untuk menghadapi konflik berintensitas tinggi di masa depan.

Selain memperkuat misi nuklir, modernisasi Pangkalan Udara Luxeuil juga menjadi bagian dari strategi Prancis untuk meningkatkan kemampuan bertahan dalam peperangan modern, termasuk operasi yang lebih tersebar, perlindungan fasilitas militer, serta regenerasi kekuatan udara secara cepat apabila terjadi konflik berskala besar.

  • Rafale F5

Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.