Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ketimpangan Pendapatan Menyulitkan RI Lolos dari “Middle Income Trap”

📅 Jumat, 31 Jan 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi

Ketika pandemi Covid-19 melanda, Indonesia kembali mengalami kemunduran sebelum akhirnya kembali masuk ke kelompok middle income pada 2022.

“Pendapatan per kapita Indonesia masih jauh dari target yang hendak dicapai di tahun 2045. Karena itu, kita harus benar-benar mengkaji strategi pertumbuhan ekonomi ke depan,” kata Aloysius.

Tidak Lagi Andal

Salah satu kendala utama dalam mencapai pertumbuhan 6-7 persen adalah stagnasi produktivitas dan deindustrialisasi prematur. Indonesia mengalami perlambatan dalam sektor industri bahkan sebelum mencapai puncak industrialisasi, sehingga ekonomi masih sangat bergantung pada sektor konsumsi dan komoditas. Selain itu, beban kebergantungan yang meningkat akibat populasi yang menua serta masalah kelas menengah yang masih menghadapi kesulitan mobilitas sosial juga menjadi penghalang.

“Tanpa inovasi, Indonesia akan sulit untuk tumbuh dengan sumber pertumbuhan yang baru. Meskipun investasi dan infusi teknologi sudah berjalan cukup baik, inovasi di dalam negeri masih menjadi tantangan besar,” kata Aloysius.

Lebih lanjut dia menekankan bahwa strategi keluar jebakan tersebut tidak cukup hanya mengandalkan tiga faktor utama yaitu inovasi, investasi, dan infusi teknologi, tetapi Indonesia perlu menambahkan satu aspek krusial, yaitu institusi (kelembagaan).

Dalam formula Bank Dunia, negara-negara yang ingin naik kelas harus memiliki strategi berbasis inovasi, yang berarti peningkatan riset dan pengembangan, adopsi teknologi, serta kebijakan yang mendorong daya saing industri.

Masalahnya, di Indonesia, aspek institusional sering kali menjadi penghambat utama, mulai dari regulasi yang tidak efisien, birokrasi yang lambat, hingga ketidakpastian hukum.

“Kelembagaan yang kuat adalah kunci utama agar strategi pertumbuhan bisa berjalan efektif. Tanpa reformasi kelembagaan, target keluar dari middle income trap hanya impian,” pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.