Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ketimpangan Pendapatan Menyulitkan RI Lolos dari “Middle Income Trap”

📅 Jumat, 31 Jan 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ketimpangan Pendapatan Menyulitkan RI Lolos dari “Middle Income Trap” Doc: istimewa
Ket. Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas)

JAKARTA - Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia harus mencapai 6-7 persen untuk keluar dari middle income trap (jebakan pendapatan negara kelas menengah).

Deputi Bidang Perencanaan Makro Pembangunan Eka Chandra Buana di Jakarta, Kamis (30/1) mengatakan Indonesia hanya punya waktu sekitar 21 tahun menuju Indonesia Emas 2045.

“Itu tahun yang tidak panjang. Untuk itu, kita harus bisa keluar dari middle income trap, caranya pertama adalah memang ekonomi harus tumbuh paling tidak 6 sampai 7 persen,” kata Eka.

Apabila pertumbuhan ekonomi Indonesia 7 persen, maka Indonesia bisa keluar dari middle income trap sebelum 2040. Jika tumbuh 6 persen, lanjutnya, Indonesia dapat keluar dari jebakan tersebut sekitar 2041.

Sejumlah target yang ditetapkan pemerintah untuk menjadi negara maju pada 2045 adalah memiliki pendapatan per kapita 30.300 dollar Amerika Serikat (AS), menurunkan kemiskinan dan ketimpangan hingga mendekati 0 persen, meningkatkan human capital masyarakat, lalu pengaruh dan kepemimpinan Indonesia di kawasan meningkat, hingga pengelolaan lingkungan berkelanjutan dan penurunan emisi gas rumah kaca.

“Ini yang menjadi syarat yang harus kita lakukan untuk kita maju,” kata Eka.

Untuk mencapai tujuan itu, ia menyampaikan beberapa tantangan yang perlu diatasi.

Pertama, pertumbuhan inklusif di Indonesia masih relatif tertinggal dibandingkan negara lain yang terlihat pada inclusive indeks.

Kedua, adanya ketimpangan pendapatan dengan posisi Indonesia nomor dua tertinggi dibandingkan negara lainnya.

Selanjutnya, tingkat produktivitas yang masih rendah, padahal aspek ini merupakan modal penting ketika hendak membangun suatu bangsa. “Kalau kita bandingkan dengan negara-negara se-kawasan memang agak tertinggal, yaitu kalau kita lihat dari skor PISA (Programme for International Student Assessment) ini masih relatif rendah,” katanya.

Begitu pula human capital index Indonesia dibandingkan negara lain jadi masih rendah. Belum lagi penurunan penduduk kelas menengah dan maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) beberapa juta orang.

Dari eksternal, ketidakpastian perekonomian karena situasi geopolitik dan geoekonomi turut menjadi tantangan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal yang tak kalah penting adalah kesenjangan antar wilayah barat dengan timur yang cukup tinggi di dalam pembangunan Indonesia.

Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJ) Aloysius Gunadi Brata, mengatakam untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar itu tidaklah mudah. Meskipun pertumbuhan tinggi, tetapi yang diperlukan adalah bagaimana meningkatkan pendapatan per kapita. Sebab, sumber-sumber pertumbuhan tradisional tidak lagi cukup untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah.

“Indonesia telah terjebak selama puluhan tahun. Sejak awal 1990-an, Indonesia masuk ke dalam kelompok lower-middle income. Namun, saat krisis moneter 1998, Indonesia sempat turun ke kategori low income sebelum akhirnya kembali naik ke lower-middle income di masa pemulihan ekonomi,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.