Guru Besar UI Ingatkan Perlunya Deteksi Dini Cepat Penyakit DBD
📅 Senin, 16 Des 2024, 17:58 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/Humas UI
DEPOK - Guru Besar dalam Bidang Ilmu Virologi dan Imunologi Virus Demam Berdarah Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) Prof Dra Beti Ernawati Dewi, Ph.D.,mengingatkan perlunya deteksi dini cepat penyakit demam berdarah dengue (DBD).
"Sebagai pengajar FKUI yang telah melakukan penelitian untuk mengembangkan Kit Deteksi dini dan cepat DBD dengan nama dagang KODC DENGUE," kata Prof Beti Ernawati di Kampus UI Depok, Senin (16/15).
Ia berharap masyarakat memahami pentingnya deteksi dini DBD dan dapat memanfaatkan kit buatan dalam negeri ini, sehingga Indonesia zero kematian tahun 2030 dapat tercapai.
Prof Beti mengatakan bahwa demam berdarah dengue (DBD) yang disebabkan karena infeksi virus dengue (DENV), masih merupakan masalah kesehatan di dunia, termasuk Indonesia.
Sejak pertama kali dilaporkan di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968, kasus DBD terus meningkat secara bermakna dan berdampak pada semua provinsi di Indonesia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Laju kasus kematian karena DBD di Indonesia menempati urutan pertama jika dibandingkan dengan negara lain.
Lebih lanjut, ia mengatakan walaupun ini mungkin saja karena under reported cases DBD di Indonesia, tetapi jumlah kematian mencapai angka 894 pada tahun 2023 dan merupakan angka kematian yang tinggi.
Kematian pada infeksi DENV disebabkan karena keterlambatan dalam penanganan. Gejala klinis yang tidak khas pada infeksi DENV, menyulitkan klinisi dalam menegakkan diagnosis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Deteksi DENV pada awal infeksi dapat membantu klinisi memberikan penatalaksanaan yang cepat dan tepat, sehingga kematian dapat dicegah. Pada awal infeksi, DENV dapat didiagnosis dengan cara mendeteksi antigen virus, yaitu protein non-structural-1 (NS-1).
“Melalui Hibah Inovasi Perguruan Tinggi yang dimanfaatkan di industri, kami FKUI bersama PT Konimex memproduksi KODC Dengue, yaitu kit deteksi dini dan cepat, yaitu hanya membutuhkan 15 menit berbasis NS-1,” ujar Prof Beti.
Ia menambahkan pengembangan kit dengan menggunakan DENV strain Indonesia terbukti memberikan sensitivitas dan spesifisitas yang lebih baik dalam mendeteksi infeksi DENV di Indonesia.
Selain itu, produksi dalam negeri akan menjembatani ketergantungan Indonesia terhadap produksi luar negeri, sehingga dapat mewujudkan kemandirian bangsa dalam bidang alat kesehatan.
Selain manfaat individual, ia mengatakan bahwa deteksi dini juga memberikan manfaat sosial, yaitu memutus mata rantai penyebaran DENV lebih cepat melalui sistem pelaporan kasus infeksi DENV di Indonesia yang selalu ditindaklanjuti dengan pelaksanaan fogging di wilayah sekitar domisili pasien.
Permasalahan DBD mulai dari patogenesis hingga pencegahan dan penatalaksanaan sangatlah kompleks.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!