Kemakmuran Harus Merata, Tanpa Kesenjangan Sosial Ekonomi yang Tajam
📅 Kamis, 05 Des 2024, 02:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: istimewa
KUPANG– Indonesia makmur merupakan salah satu tujuan nasional yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Kemakmuran juga sering dikaitkan dengan keadilan yang sejalan dengan sila kelima Pancasila, “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam sambutannya pada Sidang Tanwir dan Milad Ke-112 Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, Rabu (4/12), mengatakan kemakmuran harus merata dan tidak boleh ada kesenjangan sosial-ekonomi yang tajam.
Sebab itu, peran pemerintah dalam mengarahkan kebijakan kemakmuran sangatlah penting dalam menghadirkan Indonesia berkemakmuran.Haedar pun mengaku siap mendukung program pemerintah yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto dalam memakmurkan masyarakat Indonesia.
“Kami menaruh kepercayaan yang besar kepada Bapak Presiden, di mana kami membersamai perjuangan Bapak untuk dua hal, yaitu Bapak selalu menggelorakan tentang visi kedaulatan Indonesia dan Bapak selalu menyuarakan pentingnya gerakan memakmurkan atau masyarakat adil makmur yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia,” kata Haedar.
Menurut Haedar, semangatnya hanya satu yakni kemakmuran negeri di tanahnya yang subur dan penduduknya berkembang pesat, aman, damai, serta sejahtera lahir dan batin.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Itulah Indonesia makmur gemah ripah loh jinawi. Islam menyebutnya baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” katanya.
Haedar dalam bukunya berjudul “Paradoks Indonesia dan Solusinya”, Prabowo di dalam buku itu menuliskan bahwa pemerintah harus menjadi pelopor dalam membangun ekonomi, menyelamatkan negara, membangun kemakmuran, dan mengurangi kemiskinan.
“Pemerintah tidak boleh hanya menjadi wasit. Ini bedanya paham neoliberal dan paham ekonomi konstitusi,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam pidatonya, dia menyampaikan bahwa Presiden ke-8 RI itu bahkan sudah lama mengingatkan bahwa penyakit yang paling mendesak dari tubuh ekonomi Indonesia saat ini adalah mengalir keluarnya kekayaan nasional dari wilayah Indonesia.
Hasil dari kekayaan ekonomi Indonesia yang disimpan dan dimanfaatkan di luar negeri cukup besar. Oleh karena itu, penting political will pemerintah dalam mengembalikan asas dan kebijakan politik ekonomi untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
“Agar perekonomian Indonesia benar-benar diperuntukkan bagi kemakmuran untuk semua. Kami percaya dengan spirit ekonomi kerakyatan berbasis kekeluargaan, gotong royong, keadilan sosial, dan persatuan Indonesia, maka golongan ekonomi kuat dan mayoritas rakyat kecil di republik ini dapat dipersatukan untuk membangun kemakmuran seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Direktur Pusat Studi Islam dan Demokrasi (PSID) Jakarta, Nazar el Mahfudzi, mengatakan dukungan dari Muhammadiyah mencerminkan peluang besar untuk melibatkan organisasi masyarakat (ormas) besar dalam mendukung agenda pengurangan kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan rakyat.
“Dukungan Muhammadiyah itu adalah sinyal penting. Muhammadiyah telah lama berkontribusi nyata di bidang pengentasan kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan, tiga pilar utama yang menjadi kebutuhan mendesak bangsa ini,” kata Nazar.
Lebih lanjut, dia mengatakan kalau kemiskinan tetap menjadi tantangan besar di Indonesia, dan harus menjadi fokus utama pemerintah. “Mengurangi kemiskinan adalah tugas yang tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian. Perlu kerja sama dengan seluruh elemen masyarakat, termasuk ormas besar seperti Muhammadiyah,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!