Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pemerintah Diminta Mengoptimalkan Diversifikasi Pangan

📅 Rabu, 04 Des 2024, 02:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pemerintah Diminta Mengoptimalkan Diversifikasi Pangan Doc: antara
Ket. Berly Martawardaya Ekonom Senior Indef - Tidak semua daerah di Indonesia cocok untuk ditanami beras. Oleh sebab itu, sumber pangan lokal selain beras perlu dikembangkan secara optimal.

JAKARTA– Pemerintah diminta mengoptimalkan diversifikasi pangan seiring dengan upaya mewujudkan swasembada dalam rangka mendukung ketahanan dan kedaulatan pangan dalam negeri.

Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Berly Martawardaya, mengatakan Indonesia pada tahun lalu mengimpor 3,06 juta ton beras, naik tertinggi dalam lima tahun terakhir.

“Mungkin pertanyaannya apakah harus beras? Jadi, dari demand side bagaimana upaya untuk melakukan diversifikasi, karena memang daerah Indonesia yang cocok untuk beras tidak terlalu banyak, Jawa, sebagian Sumatera, dan mungkin sebagian Sulawesi,” kata Berly, di Jakarta, Selasa (3/12).

Berly saat mengikuti acara Sarasehan 100 Ekonom Indonesia dengan tema “Estafet Kepemimpinan Baru Menuju Akselerasi Ekonomi” menuturkan kalau tidak semua daerah di Indonesia cocok untuk ditanami beras. Oleh sebab itu, sumber pangan lokal selain beras perlu dikembangkan secara optimal untuk dikonsumsi masyarakat.

“Untuk Indonesia timur lahannya tidak terlalu cocok, sehingga kalau didorong atau ingin tumbuh beras di sana, investasinya besar sekali dan mahal, dan kalaupun rakyat sana sudah terbiasa makan beras, jadinya biaya transportasi juga mahal,” katanya.

Menurut dia, ada beragam sumber pangan lokal selain beras yang bisa menjadi pilihan untuk diversifikasi pangan bagi masyarakat Indonesia sehingga pada gilirannya dapat mengurangi ketergantungan impor beras.

“Kenapa tidak kita dorong ubi, singkong, kemudian talas, sagu yang juga makanan lokal, tapi mungkin dengan sentuhan chef-chef ahli-ahli kuliner baru, sehingga menjadi laku di anak muda. Jadi, anak muda tidak harus makan beras, yang untuk Indonesia timur itu mahal dan sulit untuk ditanam dan dibawa,” tuturnya.

Hilirisasi Pertanian

Dalam kesempatan yang sama, ekonom senior Bayu Krishnamurti mendorong Pemerintah untuk melakukan optimalisasi hilirisasi pertanian dan pangan guna mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Salah satu yang paling penting dan punya dampak mungkin paling besar adalah hilirisasi pangan dan pertanian,” kata Bayu.

Menurut Bayu, hilirisasi pangan dan pertanian mensyaratkan dua hal, yaitu dukungan dan peran swasta, dan huluisasi atau pertanian yang sesuai dengan karakter dari aktivitas hilir atau aktivitas industrial.

“Yang pertama adalah swasta yang akan berperan. Oleh sebab itu, akan dibutuhkan investasi dan kemudian tentunya efektivitas dari investasi itu dimana kita harapkan kelembagaan maupun infrastruktur mendukung sedemikian sehingga kalau pakai istilah ekonominya, i-core-nya untuk industri pangan itu bisa kondusif untuk mendorong hilirisasi,” jelas Bayu.

Selain itu, konsistensi mutu dan jumlah harus terjaga dan didukung biaya logistik yang harus relatif bersaing.

“Hilirisasi butuh huluisasi. Karena pertaniannya harus juga disesuaikan dengan karakter dari aktivitas hilir itu, aktivitas industrial. Konsistensi mutu, konsistensi jumlah, biaya logistik yang harus bersaing,” pungkasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.