Neptunus, Planet yang Ditemukan Lewat Perhitungan Matematis
📅 Selasa, 26 Nov 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoPara ilmuwan kemudian berpikir bahwa Neptunus muda kehilangan kecepatan dan membiarkan dirinya dikendalikan oleh gravitasi Matahari, meninggalkan simpanan metananya sebagai petunjuk tempat kelahirannya yang jauh.
Badai Dahsyat
Cuaca yang tidak menentu menghiasi langit Neptunus. Raksasa gas tersebut mungkin terkenal karena memiliki badai terbesar di tata surya, tetapi Neptunus memegang gelar sebagai pemilik angin tercepat. Angin kencang supersonik bertiup dengan kecepatan 1.200 mil per jam, sekitar lima kali lebih cepat daripada hembusan angin terkuat yang pernah terukur di Bumi.
Para ilmuwan masih bingung dengan apa yang mendorong badai dahsyat ini. Sebagai planet terjauh dari Matahari di tata surya kita, Neptunus tidak menerima cukup sinar matahari untuk mempertahankan kecenderungannya yang berangin.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebaliknya, beberapa pakar menuding panas bagian dalam Neptunus sebagai sumber tenaga. Nick Teanby, seorang ilmuwan planet di Universitas Bristol di Inggris, mengatakan para ilmuwan masih mencoba mencari tahu apa yang terjadi di dalam planet itu. “Ada sesuatu yang terjadi dengan bagian dalam yang dalam ini,” kata Teanby dikutip dari Smithsonian.
Ukuran Neptunus yang relatif besar empat kali lebih besar dari Bumi memungkinkannya mempertahankan panas purba, sedemikian rupa sehingga memancarkan panas dua kali lebih banyak daripada yang diterimanya dari Matahari. Faktanya, Neptunus lebih panas daripada Uranus yang adalah planet yang lebih dekat Matahari, menurut data Voyager 2.
Selain badai, hujan juga turun di Neptunus bukan tetesan cairan, tetapi berlian. Untuk lebih jelasnya, para ilmuwan belum mengamati hujan batu secara langsung di Neptunus, tetapi mereka menganggapnya masuk akal, karena Neptunus ditutupi oleh selubung gas tebal, yang tekanan dalamnya cukup kuat untuk menempa berlian dari metana di atmosfer.
Sebaiknya Anda baca juga:
Eksperimen laboratorium oleh para ilmuwan sejak tahun 1999 telah menciptakan kembali kondisi di dalam Neptunus, dan mereka mengkonfirmasi bahwa tekanan tersebut memang mampu memeras dan memanaskan senyawa organik menjadi batu. Namun, menambang bagian dalam Neptunus yang dalam tidak mungkin dilakukan, karena tidak ada robot yang dapat bertahan hidup pada tekanan ekstrem planet tersebut.
Planet ini juga memiliki bintik-bintik yang selalu berubah menghiasi permukaannya. Selama penerbangan lintas Voyager 2, wahana antariksa itu mengamati pusaran di tengah awan Neptunus yang kemudian dijuluki oleh para ilmuwan sebagai Bintik Gelap Besar.
Heidi Hammel, seorang astronom planet di Asosiasi Universitas untuk Penelitian Astronomi nirlaba, mengingat pelacakan awan badai ini dengan teleskop darat di Mauna Kea di Hawaii saat dirinya masih menjadi mahasiswa pascasarjana.
Namun, ketika Teleskop Luar Angkasa Hubble mengalihkan pandangannya ke mata gelap Neptunus pada tahun 1994, bintik itu telah menghilang. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!