Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

New Delhi Tutup Sekolah karena Polusi Asap

📅 Senin, 18 Nov 2024, 21:25 WIB | Oleh:
New Delhi Tutup Sekolah karena Polusi Asap Doc: Istimewa
Ket. Orang-orang bermain bulu tangkis di Lodhi Garden, New Delhi, di tengah kabut asap.

NEW DELHI – Ibu kota India, New Delhi, mulai hari Senin (18/11), mengalihkan kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi kelas daring  hingga pemberitahuan lebih lanjut karena polusi kabut asap yang melonjak melewati 60 kali batas maksimum harian yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organisation (WHO).

Dikutip dari The Straits Times, berbagai inisiatif pemerintah yang dilakukan secara terpisah telah gagal mengatasi masalah tersebut secara terukur. Kabut asap dianggap sebagai penyebab ribuan kematian dini setiap tahunnya dan khususnya berdampak pada kesehatan anak-anak dan orang lanjut usia.

Menurut monitor polusi IQAir, tingkat polutan PM2.5, partikel mikro penyebab kanker berbahaya yang memasuki aliran darah melalui paru-paru mencapai puncaknya pada 921 mikrogram per meter kubik pada tengah hari tanggal 18 November, dengan pembacaan di atas 15 dalam periode 24 jam dianggap tidak sehat oleh WHO.

Stasiun pemantauan individu mencatat tingkat yang bahkan lebih tinggi, satu stasiun mencatat polutan PM2.5 pada angka 1.117, 74 kali lipat dari maksimum WHO. “Mata saya terasa perih selama beberapa hari terakhir,” kata penarik becak Subodh Kumar, 30 tahun.

“Polusi atau tidak, saya harus berada di jalan, ke mana lagi saya akan pergi? Kami tidak punya pilihan untuk tetap di dalam rumah... mata pencaharian, makanan, dan kehidupan kami – semuanya ada di tempat terbuka,” katanya.

Polusi meluas ke seluruh wilayah India utara, dengan para wisatawan di Taj Mahal di Agra mengambil foto monumen marmer putih yang hampir tak terlihat itu diselimuti awan,  dan mencekik penduduk Lahore di negara tetangga Pakistan.

Kabut asap tebal berwarna abu-abu dan menyengat menyelimuti kota tersebut, dan IQAir mencantumkan kondisinya sebagai berbahaya.

Asap Pekat

Kota ini diselimuti kabut asap pekat setiap tahunnya, yang terutama disebabkan oleh pembakaran tunggul oleh petani di daerah tetangga untuk membersihkan ladang sebelum dibajak, serta asap pabrik dan asap kendaraan bermotor.

Sebuah laporan oleh The New York Times pada bulan November, berdasarkan sampel yang dikumpulkan selama lima tahun, mengungkapkan asap berbahaya juga keluar dari pembangkit listrik yang membakar tumpukan sampah tempat pembuangan sampah kota.

Sekolah dasar diperintahkan untuk menghentikan kelas tatap muka pada tanggal 14 November, dengan serangkaian pembatasan lebih lanjut diberlakukan pada tanggal 18 November, termasuk pembatasan truk bertenaga diesel dan konstruksi.

Pembatasan tersebut diberlakukan oleh otoritas kota “dalam upaya mencegah penurunan kualitas udara lebih lanjut”.

Pihak berwenang berharap dengan menjaga anak-anak di rumah, kemacetan lalu lintas akan berkurang secara signifikan.

Pemerintah mengimbau anak-anak dan orang tua, serta mereka yang memiliki masalah paru-paru atau jantung, “untuk tetap berada di dalam rumah sebisa mungkin”.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Keren, Unika Atma Jaya Masuk Top 100 Dunia WURI 2026

1.5 jam yang lalu | Mohammad Zaki Alatas

Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.