Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Teka-teki Situs Gunung Padang di Cianjur, Bukan Piramida tapi Punden Berundak

📅 Minggu, 03 Nov 2024, 13:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Teka-teki Situs Gunung Padang di Cianjur, Bukan Piramida tapi Punden Berundak Doc: ANTARA/Nurul Ramadhan
Ket. Sejumlah pengunjung berkeliling di kawasan Situs Megalitikum Gunung Padang, Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Minggu (4/11/2018).

Harry Octavianus Sofian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Gunung Padang yang terletak di Desa Karyamukti, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, telah menarik perhatian publik selama beberapa dekade terakhir. Terlebih, setelah terbitnya penelitian pada Oktober 2023 lalu yang mengklaim bahwa Gunung Padang merupakan situs arkeologi purbakala berusia sekitar 27.000 tahun, dengan bangunan raksasa berupa piramida yang terkubur di dalamnya.

Hingga saat ini, para peneliti, baik di dalam maupun di luar negeri masih berdebat perihal usia maupun bentuk asli Gunung Padang-apakah situs ini merupakan sebuah piramida kuno atau sekadar punden berundak, yaitu teras-teras tanah berundak yang dibuat mengikuti kontur bukit.

Sejarah penelitian dan awal mula kontroversi

Gunung Padang sebenarnya bukanlah penemuan baru bagi para arkeolog.
Pada 1891, seorang peneliti asal Belanda bernama Verbeek pertama kali mempublikasikan keberadaan Situs Gunung Padang dalam sebuah jurnal berjudul Verhandelingen van Het Bataviaasche Genootschap der Kunsten en Wetenschappen Deel XLVI.

Penelitian lebih lanjut kemudian dilakukan oleh arkeolog Belanda N.J Krom pada 1914, yang menyatakan bahwa Gunung Padang merupakan sebuah tempat pemujaan arwah leluhur di masa lalu.

Pada 1979, tiga penduduk setempat menemukan dinding tinggi dan susunan bebatuan di atas bukit ini, yang kemudian dilaporkan ke Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (sekarang Kementerian Kebudayaan)

Usai mendapat laporan tersebut, departemen melakukan beberapa kali survei dan penelitian dan memasukkan Gunung Padang dalam peta arkeologi.

Gunung Padang baru mulai menjadi buah bibir pada 2011, usai kelompok peneliti Yayasan Turangga Seta muncul dengan klaim yang cukup fantastis: adanya piramida di beberapa gunung di Jawa Barat, termasuk Gunung Padang. Mereka melakukan pembuktian berdasarkan bisikan gaib atau wangsit dari leluhur untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi ini.

'Rumor piramida' ini kemudian ditindaklanjuti dengan serius oleh kalangan istana melalui Tim Katastropik Purba yang dibentuk oleh Andi Arif, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Kelompok riset yang semula beranggotakan 12 peneliti ini selanjutnya berganti nama menjadi Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) Gunung Padang dengan tambahan tim ahli dari berbagai disiplin ilmu, seperti arsitek, filolog, astronom, sampai arkeolog.

Di bawah arahan pakar gempa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (sekarang BRIN) Danny Hilman Natawidjaja, tim melakukan pengeboran. Penemuan-penemuan mereka, seperti semen purba, artefak kujang raksasa, koin logam kuno, pasir peredam gempa, serta dugaan adanya berton-ton emas yang terkubur di dalam Situs Gunung Padang, membuat heboh publik.

TTRM mengklaim bahwa situs ini berasal dari 13.000 hingga 23.000 tahun Sebelum Masehi. Kronologi penemuan situs kemudian diterbitkan oleh arkeolog Ali Akbar dalam bukunya yang berjudul "Situs Gunung Padang, Misteri
dan Arkeologi"
.

Danny Hilman juga menulis buku "Plato Tidak Bohong Atlantis di Indonesia", yang mencoba mengaitkan naskah Plato mengenai Atlantis dengan kebencanaan dan hasil penelitian di Gunung Padang, menyiratkan kemungkinan situs ini berkaitan dengan peradaban Atlantis.

Namun, klaim-klaim ini mendapatkan banyak kritik dari para arkeolog, terutama yang tergabung dalam Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI). Dalam diskusi pada Juli 2013 di Serambi Salihara Jakarta, para ahli arkeologi seperti Truman Simanjuntak dan Daud Tanudirjo menyatakan bahwa hasil penelitian tim Danny masih sebatas hipotesis tanpa bukti arkeologis yang cukup kuat untuk mendukung klaimnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Pemutihan Pajak Kendaraan B...
Megapolitan
30 Rumah di Tanah Tinggi Ja...
Megapolitan
Dua WNA Ditemukan Meninggal...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.