Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Jejak Kota-kota Hilang di Jalur Sutra Ditemukan

📅 Senin, 28 Okt 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Jejak Kota-kota Hilang  di Jalur Sutra Ditemukan Doc: M. Frachetti/Washington University

Para arkeolog berhasil menemukan dua kota kembar di Jalur Sutra, sebuah rute perdagangan kuno pada abad pertengahan. Kota ini berada di sebuah dataran tinggi dengan lanskap yang suram, yang kemungkinan menjadi alasan ditinggalkan.

Sebelum jalur laut ditemukan, rute perdagangan dari Barat dan Timur dilakukan melalui jalur darat yang disebut dengan Jalur Sutra (Silk Road). Jalur perdagangan darat internasional kuno ini yang berasal dari peradaban Tiongkok yang menghubungkan antara Barat dan Timur.

Jalur Sutra bukan hanya berperan penting dalam dalam perdagangan antara dunia Timur dan Barat. Lebih dari itu jalur ini membuka pertukaran budaya, seperti seni, agama filsafat, teknologi, bahasa, sains, dan arsitektur, yang penting bagi kemajuan peradaban.

Jejak Jalur Sutra ini baru-baru ini telah ditemukan oleh para arkeolog. Mereka menemukan kota abad pertengahan yang telah dihuni oleh penduduk pada ribuan tahun lalu. Kota ini tersembunyi di pegunungan yang menjulang tinggi di Asia tengah yang berada di rute perdagangan tersebut.

Sebuah tim pertama kali menemukan salah satu kota yang hilang pada tahun 2011 saat mendaki pegunungan berumput di Uzbekistan timur untuk mencari sejarah yang tak terungkap. Para arkeolog berjalan di sepanjang dasar sungai dan menemukan situs pemakaman di sepanjang jalan menuju puncak salah satu gunung.

Awalnya gundukan-gundukan itu tidak tampak istimewa, namun ternyata tanahnya dipenuhi dengan ribuan pecahan tembikar yang memberi mereka tanda bahwa dahulu kala tempat ini pernah menjadi tempat tinggal masyarakat.

"Sebagai arkeolog, kami mengenalinya sebagai tempat antropogenik, sebagai tempat tinggal orang," kata Farhod Maksudov dari Pusat Arkeologi Nasional Akademi Ilmu Pengetahuan Uzbekistan. "Kami benar-benar tercengang atas penemuan ini," kata Michael Frachetti, seorang arkeolog di Universitas Washington di St Louis, dikutip dari Scientific American.

Maksudov dan Frachetti awalnya tengah mencari bukti arkeologis tentang budaya nomaden yang menggembalakan ternak mereka di padang rumput pegunungan. Sebelumnya para peneliti tidak pernah menyangka akan menemukan kota abad pertengahan seluas 30 hektare di iklim yang relatif tidak bersahabat, pada ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2.133,6 meter di atas permukaan laut.

Namun, situs ini, yang kemudian disebut Tashbulak, sesuai dengan nama daerah tersebut saat ini, hanyalah permulaan. Saat melakukan penggalian pada tahun 2015, Frachetti bertemu dengan salah satu dari sedikit penduduk di wilayah tersebut yang bertugas sebagai inspektur kehutanan yang tinggal bersama keluarganya beberapa mil dari Tashbulak.

"Ia berkata, 'Di halaman belakang rumah saya, saya pernah melihat keramik seperti itu'," ucap Frachetti. Jadi, para arkeolog pergi ke lahan pertanian inspektur kehutanan tersebut, di mana mereka menemukan bahwa rumahnya berada di atas gundukan tanah yang tampak familiar.

"Benar saja, ternyata ia tinggal di benteng abad pertengahan," kata Frachetti.

Dari sana, para peneliti mengamati lanskap dan melihat lebih banyak gundukan tanah. "Dan kami takjub karena tempat ini ternyata sangat besar," ucap Frachetti.

Situs kedua ini, bernama Tugunbulak, dideskripsikan untuk pertama kalinya dalam sebuah studi yang diterbitkan pada tanggal 23 Oktober di Nature. Para peneliti menggunakan teknologi penginderaan jarak jauh untuk memetakan apa yang mereka gambarkan sebagai kota abad pertengahan yang luasnya hampir 300 hektare.

Jaraknya sejauh tiga mil dari Tashbulak, yang terintegrasi ke dalam jaringan rute perdagangan yang dikenal sebagai Jalur Sutra.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Waoooww….Warga Bandung ak...
Luar Negeri
Gempa Tibet Tewaskan 16 Ora...
Megapolitan
BMKG Peringatkan Hujan Leba...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.