Riset: Polusi Udara dan Suara Bisa Menyebabkan Ketidaksuburan
📅 Jumat, 27 Sep 2024, 14:37 WIB | Oleh: Tim PenulisDiperlukan penelitian lanjutan
Data linkage bisa menjadi metode yang kuat untuk menyelidiki dampak lingkungan terhadap kesehatan. Cara ini memungkinkan adanya proses penilaian terhadap sejumlah besar orang dalam rentang waktu yang lama, seperti yang dilakukan penelitian di Denmark.
Sayangnya, penelitian jenis ini memiliki keterbatasan. Studinya bergantung pada beberapa asumsi karena tidak mensurvei individu secara langsung dan mempertimbangkan faktor biologis peserta-seperti kadar hormon dan massa tubuh.
Contoh asumsi dalam penelitian ini adalah mengenai apakah pasangan yang didiagnosis mengalami ketidaksuburan benar-benar berusaha untuk memiliki anak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Peneliti juga memperkirakan orang yang terpapar kebisingan dan polusi udara berdasarkan alamat rumah mereka, dengan asumsi mereka berada di rumah.
Hasil riset mungkin akan lebih akurat jika ada survei yang secara langsung melibatkan individu yang mengalami ketidaksuburan serta memiliki pengalaman terpapar polusi udara dan suara lalu lintas.
Pertanyaan dalam surveinya mungkin perlu mencakup sejumlah faktor yang dapat mengubah respons hormon dan berdampak pada ketidaksuburan, seperti gangguan tidur dan stres. Peneliti juga bisa mempertimbangakn soal paparan bahan kimia yang mengganggu hormon dan lazim ditemui di rumah, digunakan dalam produk rumah tangga dan perawatan pribadi harian.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian ini terbilang inovatif karena belum pernah ada sebelumnya. Temuannya sangat potensial untuk mengeksplorasi kemungkinan adanya hubungan antara polusi udara dan kebisingan lalu lintas dengan ketidaksuburan.
Meski begiu, diperlukan studi yang lebih terkontrol-dengan melibatkan pengukuran langsung, bukan sekadar perkiraan-ini akan memperdalam pemahaman kita mengenai bagaimana polusi udara dan kebisingan lalu lintas memengaruhi kemampuan reproduksi laki-laki dan perempuan.![]()
Amy L. Winship, Group Leader and Senior Research Fellow, Anatomy and Developmental Biology, Monash University dan Mark Green, Associate Professor and Deputy Scientific Director Research at Monash IVF, The University of Melbourne
Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!