Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemandirian Fiskal Daerah Terus Diperkuat

📅 Jumat, 27 Sep 2024, 09:57 WIB | Oleh:
Kemandirian Fiskal Daerah Terus Diperkuat Doc: ISTIMEWA

SERANG - Kebijakan fiskal yang tepat sangat mendukung penciptaan pertumbuhan ekonomi secara inklusif, yakni dari daerah. Desentralisasi fiskal selama ini diyakini mampu mendorong dana transfer ke daerah (TKD) tumbuh signifikan.

"TKD efektif menurunkan ketimpangan antardaerah dan meningkatkan kemandirian desa," ungkap Kepala Pusat Kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Wahyu Utomo dalam Media Gathering Kementerian Keuangan di Serang, Banten, Rabu (25/9) malam.

Data terbaru Kemenkeu menunjukkan TKD berhasil menurunkan ketimpangan antarwilayah. Pada 2023 indeks ketimpangan daerah berada di 0,195, lebih rendah dibandingkan capaian dua tahun sebelumnya, yakni 0,213 pada 2022 dan 0,232 pada 2021.

Pada saat bersamaan, kemandirian desa juga terus meningkat. Dalam tiga tahun, jumlah desa mandiri mencapai 17.203 pada 2024, meningkat dari 11.456 pada 2023 dan 6.238 pada 2022. Di sisi lain, jumlah desa tertingga terus turun menjadi 6.100 pada 2024 dari 7.154 pada 2023 dan 9.584 pada 2022.

Seperti diketahui, besaran TKD terus meningkat dalambeberapa tahun terakhir. Dalam APBN 2025, alokasi TKD ditetapkan sebesar 919,9 triliun rupiah, naik dari 857,6 triliun rupiah pada 2024 dan 814,7 triliun rupiah pada 2023 serta 804,8 triliun rupiah pada 2022.

Tingkatkan Kualitas

Pada kesempatan sama, Direktur Dana Transfer Umum Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Kemenkeu, Sandy Firdaus menyatakan kebijakan TKD telah mampu mendorong penguatan kemandirian fiskal daerah. Kapasitas belanja daerah terus meningkat dari 798,9 triliun rupiah pada 2014 menjadi 1.192,5 triliun rupiah pada 2023.

Meski demikian, kualitas belanja daerah perlu ditingkatkan agar pertumbuhan yang inklusif dapat diakselerasi. "Belanja perlu didorong untuk refocusing ke jenis belanja produktif agar dapat meningkatkan pelayanan dan kesejahteraan publik," ujarnya.

Dia menambahkan porsi terbesar berupa belanja pegawai dengan rata-rata per tahun mencapai 34,0 persen. Namun, dalam sembilan tahun terakhir kecenderungan belanja pegawai turun menjadi 32,1 persen pada 2023 dari 39,1 persen pada 2014.

"Belanja modal perlu terus ditingkatkan dengan raata-rata mencapai 18,4 persen untuk mengakselerasi pertumbuhan daerah," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

31 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

34 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...

KPK Berharap Nusron Wahid Kooperatif

56 menit yang lalu | Ones

Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.