Sekitar 85 Juta Lapangan Kerja Bakal Hilang di 2025
📅 Jumat, 20 Sep 2024, 00:03 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: ISTIMEWA
JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya pada pembukaan Kongres Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) XXII dan Seminar Nasional 2024, di Surakarta, Jawa Tengah, Kamis (19/9), mengatakan salah satu tantangan perekonomian ke depan adalah bagaimana membuka lapangan kerja baru, di tengah meningkatnya otomasi atau penggunaan teknologi di berbagai sektor.
"Kalau kita baca tahun 2025, pekerjaan yang akan hilang itu ada 85 juta. Sebuah jumlah yang tidak kecil. Kita dituntut untuk membuka lapangan kerja," kata Presiden. Saat ini, seluruh sektor pekerjaan mengarah kepada otomasi, dan perkembangan otomasi itu terus terjadi setiap hari.
Sebab itu, Indonesia perlu memikirkan pembukaan lapangan kerja dengan baik. "Kalau bapak-ibu bertanya pada saya, fokus ke mana? Kalau saya, sekarang maupun ke depan kita harus fokus kepada pasar kerja. Karena ke depan terlalu sedikit peluang kerja, sedangkan sangat banyak tenaga kerja yang membutuhkan," kata Kepala Negara.
Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan pemerintah perlu mengurangi impor dan secara paralel terus membangun industri dalam negeri. "Industri kreatif harus dibangun lebih massif lagi untuk membangun industri kreatif yang didukung sumber daya manusia (SDM) berkarakter dan inovatif. Perlu dikaitkan juga dengan pembangunan industri agro-maritim yang dapat menyerap banyak lapangan kerja," kata Awan.

Sebaiknya Anda baca juga:
Hal itu harus dibarengi dengan upaya serius untuk mengurangi dan menghilangkan ketergantungan terhadap impor dan memudahkan perizinan kepada investor, bukan malah mempersulit mereka ketika hendak berinvestasi. Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Yogyakarta, Y Sri Susilo, menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tengah ancaman hilangnya 85 juta pekerjaan pada 2025 akibat otomasi.
Susilo mengatakan Indonesia harus bersikap strategis dalam menghadapi perubahan ini, khususnya terkait dengan sektor-sektor yang semakin bergantung pada teknologi dan otomasi. "Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat contoh nyata di mana kasir di swalayan mulai digantikan oleh mesin self-checkout. Begitu pula di sektor manufaktur, banyak pabrik yang beralih menggunakan mesin-mesin otomatis yang mampu bekerja tanpa henti. Ini adalah contoh konkret bagaimana kapital lebih diutamakan daripada tenaga kerja manusia, atau capital-intensive daripada labour-intensive," kata Sri Susilo yang juga pengurus ISEI Pusat.
Kebutuhan Masa Depan
Sebaiknya Anda baca juga:
Fenomena itu menimbulkan pertanyaan besar, di mana keunggulan manusia di tengah arus otomasi yang semakin kuat? Sri Susilo menjelaskan bahwa manusia masih memiliki keunggulan di bidang yang membutuhkan kreativitas, pemikiran kritis, dan inovasi yang sulit digantikan oleh mesin.
"Meski banyak pekerjaan rutin digantikan oleh teknologi, manusia tetap unggul dalam hal yang melibatkan empati, kreativitas, dan pengambilan keputusan yang kompleks," tambahnya. Agar keunggulan itu bisa dimanfaatkan secara optimal, kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasional perlu disesuaikan dengan kebutuhan masa depan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!