Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Menguak Tabir Penyakit Mpox

📅 Kamis, 12 Sep 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Menguak Tabir Penyakit Mpox Doc: afp/ GUERCHOM NDEBO

Virus mpox beredar di Nigeria sejak lama. Di negara ini pada awalnya penyakit ini dianggap sebagai penyakit yang menular secara seksual hingga diabaikan dan kemudian menjadi wabah global.

Mpox atau cacar monyet sejak 14 Agustus 2024 ditetapkan sebagai Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (Public Health Emergency of International Concern/PHEIC) oleh WHO. Jika sejak lama dunia tanggap, kemungkinan virus ini tidak akan menyebar seperti saat ini.

Pada 1 Mei 2017, seorang pasien pria berusia 35 tahun dengan lesi di sekujur tubuhnya datang ke rumah sakit universitas di Port Harcourt, ibu kota Negara Bagian Rivers di Nigeria selatan. Sebuah borok yang dalam telah menggerogoti batang penisnya. "Sepertinya borok itu akan menggerogoti," kata Bolaji Otike-Odibi, dokter kulit yang merawat pasien itu.

Hasil tes dan pengalamannya menyingkirkan cacar air, sifilis, danmolloscum contagiosum, infeksi virus yang menyebabkan benjolan seperti mutiara pada kulit. "Saya lalu bertanya kepada semua kolega saya. Itu adalah sesuatu yang belum pernah kami lihat sebelumnya," ungkap Otike-Odibi dikutip dari lamanscience.org.

Dia mengambil riwayat seksual pria itu dan pasien itu memberitahu Otike-Odibi bahwa dia memiliki banyak pasangan seksual dan kondomnya robek saat berhubungan seksual beberapa hari sebelum luka itu muncul.

Selama paisen pria itu dirawat di rumah sakit, pasien kedua dirawat dengan lesi serupa termasuk di alat kelaminnya dan riwayat seksual yang serupa. Dia dinyatakan positif HIV, tetapi itu tidak menjelaskan kondisinya. "Kami khawatir ini adalah epidemi," kata Otike-Odibi.

Dua pasien pertama dipulangkan, dalam bulan-bulan berikutnya, dua pasien lain yang memiliki keluhan yang sama datang. Keduanya memiliki infeksi HIV yang lebih parah dan keduanya meninggal. "Saya mengambil foto mereka lalu mencatat riwayat mereka karena saya tahu suatu hari seseorang akan memberitahu saya apa ini," kata Otike-Odibi.

Akhirnya pada September 2017, Otike-Odibi mengetahui apa penyakit yang ditanganinya ketika seorang pasien dengan gejala serupa mulai datang ke rumah sakit universitas di Yenagoa, ibu kota Negara Bagian Bayelsa, 3 jam perjalanan ke barat Port Harcourt.

Banyak dari mereka adalah pria muda dengan lesi genital dan banyak juga yang mengidap HIV. Tes akhirnya mengungkapkan bahwa pasien tersebut menderita cacar monyet, penyakit virus yang hanya tercatat di Nigeria tiga kali, dengan kasus terakhir terjadi 39 tahun sebelumnya.

Lima tahun kemudian, cacar monyet merebak menjadi epidemi global, terutama pada pria yang berhubungan seks dengan sesama jenis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) segera menyatakannya sebagai Keadaan Darurat Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (PHEIC) dan mengganti nama penyakit itu menjadi "mpox" untuk menghindari stigmatisasi dan reaksi rasis. PHEIC dicabut pada Mei 2023 setelah kasus menurun drastis, tetapi secara keseluruhan, hampir 100.000 orang di 116 negara telah terinfeksi hingga sejauh ini.

Penelitian telah menunjukkan bahwa virus yang menyebabkan wabah di seluruh dunia ini berasal dari Nigeria dan menyebar antarmanusia, dan tak terpantau setidaknya selama 2 tahun sebelum Otike-Obidi menerima keempat pasien pria tersebut.

Pada 2024, mpox mewabah di Republik Demokratik Kongo (DRC), tempat varian virus baru yang lebih mematikan baru-baru ini menyebar dengan cepat di kota pertambangan. Kemungkinan penularan terjadi pada pria yang mengunjungi pekerja seks perempuan.

Virus ini kemudian menyebar ke Goma, kota berpenduduk hampir 2 juta jiwa. Kasus lain terjadi pada Juli di Uganda, Burundi, Rwanda, dan Kenya, yang saling berdekatan. Pada tanggal 15 Agustus, Swedia melaporkan bahwa seseorang yang telah bepergian ke Afrika kembali dengan jenis virus terkait juga.

Wabah yang berkembang menyebabkan Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengumumkan status PHEIC untuk kedua kalinya pada 14 Agustus. "Ini adalah sesuatu yang harus menjadi keprihatinan kita semua," kata Tedros. "Potensi penyebaran lebih lanjut di Afrika dan sekitarnya sangat mengkhawatirkan," imbuh dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Olahraga
Janice/Chong Singkirkan Ung...
Ekonomi
Sentimen The Fed Masih Domi...
Olahraga
Naomi Siap Hadapi Elise Mer...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.