Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Program Penanggulangan Kemiskinan Belum Optimal

📅 Selasa, 03 Sep 2024, 10:41 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Program Penanggulangan Kemiskinan Belum Optimal Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Penurunan tingkat kemiskinan seperti yang dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) masih diragukan, sebab masih menggunakan standar lama dalam menentukan kelompok rakyat miskin.

Peneliti Mubyarto Institute Yogyakarta, Awan Santosa, mengatakan standar tersebut semestinya bisa dikonversi menjadi standar terbaru semua dari baseline data-nya. Dengan demikian, tetap bisa diamati perubahannya.

"Perlu keberanian politik untuk menggunakan standar yang lebih tinggi, supaya setiap pemimpin paham amanah dan tanggung jawab besar yang dipikulnya sehingga tidak main-main dengan kekuasaannya," tegas Awan kepada Koran Jakarta, Senin (9/2).

Jika menggunakan standar baru, akan ada perubahan dari sisi lebih besarnya jumlah penduduk miskin dengan peningkatan garis kemiskinan ekstrem tersebut. Untuk itu, baik tingkat kemiskinan maupun pengangguran perlu ditekan dalam level persentase yang sangat rendah. "Ini salah satu tugas konstitusional utama pemerintah," katanya.

Dia menegaskan saat ini tingkat kemiskinan terbilang rendah karena standarnya menggunakan garis kemiskinan yang rendah. Ada statistik penurunan, tetapi masih belun sepadan dengan banyaknya sumber daya dan kekayaan alam yang sudah dikeruk dan anggaran negara (pusat dan daerah) yang dibelanjakan.

"Kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan belum sepenuhnya dapat mengangkat harkat dan martabat penduduk miskin yang juga adalah pemilik yang sah atas semua kekayaan di republik ini," tegasnya.

Dia memaparkan bantuan sosial bersifat karitatif, temporer, dan cenderung dipolitisir untuk tujuan pelanggengan kekuasaan.

"Mestinya pemerintah serius belajar dari Grameen Bank di Bangladesh yang dapat menjadikan jutaan perempuan miskin di negaranya menjadi pemilik perusahaan sosial yang menguasai banyak sektor usaha dan perekonomian," terang Awan.

Peneliti Lingkungan Hidup dari Sustainability Learning Center (SLC), Hafidz Arfandi, mengatakan untuk pengukuran kemiskinan, tidak masalah mengacu data Bank Dunia yakni sebesar 3,2 dollar AS atau menggunakan pendekatan ala BPS yang membangun formulasi sendiri dengan komponen pangan dan non pangan. Misalnya untuk komponen pangan masih mengacu 2.100 kilokalori per kapita per hari ditambah komponen-komponen nonpangan.

Jika diamati, dengan teliti BPS juga membangun banyak kerangka, salah satunya kategori kemiskinan berlapis; sangat miskin, miskin, hampir miskin, dan rentan miskin. Ada juga indeks lain misalkan membagi menjadi 10 desil level kemiskinan.

"Jadi, poin pentingnya adalah mengkaji distribusi kemiskinan dan peran intervensi negara untuk mengatasinya, sedangkan terkait data bisa saja disesuaikan dengan beragam indikator yang ada karena datanya dapat diakses publik secara terbuka dan bisa diolah disesuaikan dengan indikator-indikator global," tegas Hafidz.

Tidak Presisi

Hanya saja, menurut dia, pendekatan moneteris demikian tidak akan presisi, pasti akan mengandung inclusion dan exclusion error, atau ada yang tidak berhak menerima dan yang seharusnya berhak tidak menerima.

"Maka secara sistem sudah tepat dengan memadukan adanya sistem layanan rujukan terpadu hingga tingkat kabupaten/kota yang memungkinkan perubahan data aktual per 3 bulan, tetapi kita perlu lebih maju dengan mengandalkan kader-kader akar rumput tidak hanya basis data dari birokrasi pemerintah," ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

49 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

52 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.