- Home
-
- Luar Negeri
-
- Proyek Pipa Gas Rusia ke T...
Proyek Pipa Gas Rusia ke Tiongkok Dikabarkan Gagal
Sabtu, 24 Agu 2024, 12:25 WIBMOSKOW - Rencana pembangunan jaringan pipa baru untuk mengangkut gas dari Rusia ke timur laut Tiongkok yang dikenal sebagai Power of Siberia-2, baru-baru ini dilaporkan kemungkinan besar akan gagal.
Seperti yang dilaporkan South China Morning Post (SCMP) pada hari Senin, 19 Agustus, Mongolia, yang wilayahnya akan dilalui jaringan pipa, tidak memasukkan proyek tersebut dalam rencana pembangunan nasionalnya hingga tahun 2028.
Dari Kyiv Post, SCMP mengatakan, jaringan pipa tersebut dapat menyediakan pendapatan transit bagi Mongolia dan 50 miliar meter kubik gas setiap tahunnya, tetapi mantan anggota Dewan Keamanan Mongolia, Munkhnaar Bayarlkhaag, mengatakan Moskow gagal mencapai kesepakatan dengan Beijing.
"Kita memasuki masa jeda yang panjang, di mana Moskow tidak lagi yakin bisa mendapatkan kesepakatan yang diinginkan dari Beijing dan mungkin akan menunda proyek tersebut hingga waktu yang lebih baik," katanya.
Bayarlkhaag menambahkan bahwa Beijing mungkin tidak senang dengan kemungkinan konglomerat energi milik negara Rusia, Gazprom, memperoleh kendali sepihak atas bagian pipa Mongolia.
"Ini akan berarti peningkatan pengaruh Moskow secara tiba-tiba dan jangka panjang di Mongolia, yang merugikan Beijing," katanya.
"Meskipun tidak pernah diungkapkan secara eksplisit, akan 'adil' untuk memasukkan orang Tiongkok ke dalam pengembangan bagian Mongolia sejak awal."
Pada tanggal 2 Juni, Financial Times (FT) melaporkan bahwa Tiongkok dan Rusia tidak mencapai kesepakatan mengenai jaringan pipa tersebut karena Tiongkok menuntut untuk menerimanya dengan harga domestik bersubsidi Rusia dan bahwa Tiongkok hanya akan membeli sebagian kecil dari kapasitas tahunan pipa yang direncanakan.
Pada bulan Mei, dilaporkan bahwa Gazprom membukukan kerugian terbesarnya selama seperempat abad setelah penjualan gas berkurang lebih dari setengahnya dan pasar Eropanya hilang karena perang di Ukraina.
Pada tahun 2023, Gazprom membukukan kerugian sebesar 629 miliar rubel (hampir 7 miliar dolar AS) dengan penurunan pendapatan dari tingkat sebelum perang hampir 30 persen dan penjualan gas berkurang lebih dari setengahnya, menurut FT .
Menurut The Moscow Times, utang Gazprom mencapai rekor 6,65 triliun rubel (73,2 miliar dolar AS) yang lebih besar dari Dana Kesejahteraan Nasional Rusia sebesar 5 triliun rubel (55 miliar dolar AS).
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
KKP Perlebar Pintu Ekspor Perikanan ke China: Eksportir Diminta Jaga Keamanan Pangan
-
Edukasi Gigi dan Mulut di Sekolah, Ajarkan Cara Menjaga Kesehatan Sejak Dini
-
Tiongkok Gelar "Operasi Khusus" di Dekat Taiwan, Terusik dengan Pertemuan Jepang-Filipina
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Trump Ingin Tiongkok Belanja Lebih Banyak Energi dari AS
-
Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Tetap Terbuka Tanpa Pungutan
-
Semarang Duduki Peringkat Tiga Kota Paling Toleran se-Indonesia 2025
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.