Pertahankan Suku Bunga, Langkah BI Sangat Terukur
📅 Kamis, 22 Agu 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim RedaksiJAKARTA - Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7 days Reverse Repo Rate di level 6,25 persen dinilai sebagai langkah yang terukur untuk saat ini jika mencermati kondisi eksternal maupun internal.
Pengamat ekonomi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y Sri Susilo, mengatakan pertimbangan internal terutama dengan melihat deflasi yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut.
Fenomena deflasi, jelas Sri Susilo, mengindikasikan adanya penurunan harga-harga barang di dalam negeri, yang bisa mencerminkan pelemahan daya beli masyarakat.
"Dengan mempertahankan suku bunga acuan, BI berusaha menjaga stabilitas harga dan mencegah inflasi yang terlalu rendah, yang pada akhirnya bisa berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi," jelasnya.
Kebijakan itu juga memberi ruang bagi perekonomian domestik untuk pulih lebih lanjut di tengah ketidakpastian global. "Kebijakan ini menunjukkan kehati-hatian BI dalam memonitor dinamika ekonomi domestik dan menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi," tuturnya.
Sebaiknya Anda baca juga:

Keputusan untuk menahan suku bunga juga selaras dengan ekspektasi pasar, sebagaimana disampaikan oleh berbagai analis ekonomi, termasuk dari Bank Mandiri. Mereka mencatat bahwa BI masih melihat beberapa faktor global, termasuk kepastian pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR), sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Dengan tetap mempertahankan suku bunga acuan, BI dinilai menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri di tengah dinamika ekonomi global yang masih belum membaik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dalam kesempatan terpisah, Manajer Riset Sekretaris Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra), Badiul Hadi, mengatakan keputusan BI menahan suku bunga acuan bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah karena ketidakpastian global seperti potensi perubahan suku bunga the Fed sampai saat ini belum memberi kejelasan.
BI juga berupaya mencegah arus keluar modal yang dapat menyebabkan depresiasi rupiah. Suku bunga yang tetap tinggi sebagaimana kebijakan BI berpotensi menjaga tingkat inflasi tetap terkendali, namun juga dapat menghambat pertumbuhan kredit.
Selain itu, keputusan BI itu sebagai bentuk sikap kehati-hatian dalam menghadapi kondisi pasar global, terutama terkait imbal hasil US Treasury.
"Kebijakan ini juga dapat menurunkan daya tarik obligasi domestik dibandingkan dengan aset-aset yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi di luar negeri," katanya.
Prospek Global
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede sebelumnya sudah memperkirakan BI akan kembali mempertahankan BI-Rate di level 6,25 persen dalam Rapat Dewan Gubernur Agustus 2024.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!