Hutan Mangrove Tongke-Tongke, Pesona Benteng Alami di Pesisir Sinjai
📅 Jumat, 16 Agu 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoWarga Tongke-Tongke ketika itu belum tahu kalau mengumpulkan batu karang dapat merusak biota laut. Tidak seperti karang alami di laut, ternyata upaya penyelamatan dengan pembuatan tanggul tidak berhasil. Warga desa itu baru mulai mencoba menanam bakau salah satu jenis mangrove pada tahun 1980-an.
Inisiatif tersebut muncul karena melihat lingkungan tetangga yang tidak kena abrasi karena terhalang tumbuhan bakau. Pengalaman tersebut telah mendorong penduduk Tongke-Tongke yang dimotori oleh H Badaruddin sebagai kepala lingkungan bersama masyarakat, bersepakat untuk melakukan penanaman bakau mulai 1986.
Upaya penghijauan oleh masyarakat Desa Tongke-Tongke dilakukan secara secara swadaya. Mereka mendirikan Kelompok Pecinta Sumber Daya Alam - Aku Cinta Indonesia (KPSDA-ACI) untuk menggerakan warga dalam proses rehabilitasi.
Kegiatan penanaman bibit bakau ini berlangsung sampai tahun 1990 dan hasil penanaman tersebut tingkat pertumbuhanya cukup baik. Atas prestasi ini Presiden Republik Indonesia, Soeharto, pada tahun 1995 memberi penghargaan Kalpataru kepada kepada bapak Muh. Tayyeb sebagai ketua kelompok Aku Cinta Indonesia (ACI).
Sebaiknya Anda baca juga:
"Tongke-Tongke ini merupakan pusat restorasi dan pembelajaran mangrove yang luasnya mencapai 173,5 hektare, terluas dan rapat pohonnya di Indonesia," kata Kabid Pengembangan Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sinjai, Dewi Anggraini, kepada kantor beritaAntarapada November lalu.
Saat ini ketinggian pohonnya telah mencapai sekitar 5 meter dengan kerapatan 0,5 x 0,5 meter. Ketinggian dan kerapatan pohon mangrove di kawasan ini sangat mendukung bagi habitat flora dan fauna sebagai habitat di kawasan pesisir ini.
Mangrove di Tongke-tongke merupakan perpaduan antara mangrove alami dan hasil rehabilitasi. Ada tiga spesies yang dijumpai di kawasan ini menurut kajian dari Universitas Hasanuddin yaituRhizophora mucronata,Avicennia sp, danNypa fruticans.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejumlah fauna yang berasosiasi dengan lingkungan mangrove seperti serangga, ular pohon, kelelawar, burung bangau, burung belibis. Ada pula berbagai hewan lautan seperti tiram, beragam jenis ikan, kepiting bakau dan udang.
Jika dijabarkan lagi ada 27 spesies ikan dan 4 spesies udang dan sedikitnya 8 spesies gastropoda (lebih umum dikenal sebagai siput dan siput telanjang), ada juga 8 spesiesbivalvia(organisme yang memiliki ciri khas berupa dua bagian cangkang yang kurang lebih simetris) yang hidup menetap di kawasan mangrove.
Adapun fauna yang ada di pohon kawasan mangrove Tongke-Tongke adalah berbagai macam serangga, ular pohon, kelelawar, burung belibis, dan bangau. Mereka menjadikan hutan ini tempat hidup dan beranak pinak.
Beragam Fasilitas
Menurut Dewi, kelebihan wisata mangrove di Sinjai, karena selain dapat menikmati kawasan mangrove yang sejuk, juga terdapat sejumlah fasilitas sepertitrackingmangrove permanen sepanjang 250 meter untuk mengamati flora dan fauna di lokasi itu. Selain itu ada pula fasilitasshelter, pondok informasi, dan kafe terapung.
Hanya berjarak sekitar 7,1 kilometer dari pusat Kota Sinjai, membuat destinasi ini menjadi wisata wisata andalan bagi masyarakat setempat. Untuk memfasilitasi pengunjung telah didirikan gazebo, musala, kios danplayground, area pemancingan, area pembibitan, serta penyewaan perahu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!