Perdagangan RI dan Amerika Serikat Mencapai 34,5 Miliar Dollar AS
📅 Jumat, 09 Agu 2024, 00:10 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Koran Jakarta /M Fachri
JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu), Retno Marsudi, mencatat total nilai perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat (AS) mencapai 34,5 miliar dollar AS sepanjang 2023 atau mengalami surplus yang cukup besar.
Hal itu disampaikan Menlu Retno usai mendampingi Presiden Joko Widodo menerima surat kepercayaan duta besar luar biasa dan berkuasa penuh (LBBP) negara-negara sahabat, salah satunya dari AS.
"Amerika Serikat merupakan mitra dagang utama Indonesia. Nilai perdagangan kita sudah lebih dari 34,5 miliar dollar AS tahun lalu dan kita mengalami surplus yang cukup besar," kata Menlu Retno saat memberikan keterangan pers di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (8/8).
Seperti dikutip dari Antara, Menlu menjelaskan Amerika Serikat merupakan salah satu mitra dagang utama bagi Indonesia. Saat ini, pemerintah Indonesia tengah mendorong negosiasi mengenai Perjanjian Perdagangan Mineral Kritis atau (Critical Mineral Agreement) dan perpanjangan fasilitas Generalized System of Preferences (GSP) dengan AS.
Selain dengan AS, nilai perdagangan Indonesia juga tercatat surplus dengan Russia dengan total sebesar 3,3 miliar dollar AS sepanjang 2023.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selesaikan Perundingan
Pemerintah juga mendorong penyelesaian perundingan Indonesia-EU Russian Economic Union Free Trade Agreement yang dapat meningkatkan perdagangan Indonesia dengan Russia dan negara-negara anggota Uni Eropa (UE).
Kementerian Luar Negeri pun mengundang seluruh duta besar yang baru menjabat dari sepuluh negara sahabat tersebut untuk hadir dalam pameran perdagangan terbesar, yakni Trade Expo Indonesia yang akan diselenggarakan pada 9-12 Oktober di Jakarta.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Selain itu, tentunya dengan sepuluh negara itu kita akan bicara mengenai kerja sama dalam pariwisata, konektivitas, pembangunan IKN, dan lain-lain," kata Retno.
Sebelumnya, Senior Economist Bank DBS, Radhika Rao, meyakini perekonomian Amerika Serikat tidak akan mengalami resesi, hanya akan mengalami perlambatan pada semester II-2024. Perlambatan ekonomi AS tidak akan berdampak terlalu signifikan bagi perekonomian Indonesia.
"Ekonomi AS diperkirakan tidak akan terlalu buruk karena AS masih menambah jumlah pekerjanya," ujar Radhika.
Dari sisi bisnis, dia menyebut perlambatan ekonomi AS tidak akan berdampak terlalu signifikan juga, disebabkan mitra besar perdagangan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir telah diambil alih oleh Tiongkok. "Tiongkok juga bisa menggantikan AS, kami berharap dampaknya juga bisa diredam asalkan pertumbuhan Tiongkok masih ada atau pemulihan Tiongkok masih seperti yang diharapkan," ujar Radhika.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!