Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Waspadai Risiko yang Dihadapi Indonesia jika Ekonomi AS Resesi

📅 Selasa, 06 Agu 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Waspadai Risiko yang Dihadapi Indonesia jika Ekonomi AS Resesi Doc: Koran Jakarta /M Fachri
Ket. Bank Indonesia (BI)

JAKARTA - Pemerintah harus mewaspadai risiko yang akan dihadapi Indonesia bila Amerika Serikat (AS) mengalami resesi ekonomi. Resesi di AS dapat memicu keluarnya aliran modal dari pasar domestik Indonesia ke AS alias capital flight. Hal ini juga menimbang tingkat suku bunga domestik yang lebih tinggi dari laju inflasi. Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga di level 6,25 persen.

"Kemudian yang terkait dengan AS, tentu kita terus monitor. Karena tentu kalau kita lihat tingkat suku bunga kita dibandingkan inflasi gap-nya agak tinggi," kata Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, saat konferensi pers terkait pertumbuhan ekonomi Q2-2024 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (5/8).

Seperti dikutip dari Antara, Airlangga berharap Bank Sentral AS atau the Fed akan menurunkan suku bunga acuan pada kuartal IV tahun ini.

The Fed, pada Rabu (31/7), mempertahankan suku bunga pada level tertinggi dalam 22 tahun, yaitu 5,25 persen hingga 5,5 persen, seiring inflasi semakin mereda, menunjukkan penurunan suku bunga kemungkinan akan terjadi paling cepat pada September.

"Inflasi telah mereda selama setahun terakhir, tetapi masih terbilang tinggi. Dalam beberapa bulan terakhir, ada beberapa kemajuan lanjutan menuju target inflasi 2 persen yang dicanangkan Komite," sebut Komite Pasar Terbuka Federal (Federal Open Market Committee/FOMC), badan pembuat kebijakan the Fed.

Kurangi Tekanan

Terkait pernyataan the Fed, diksi yang digunakan mencerminkan peningkatan dibandingkan dengan pertemuan pada Juni lalu. Sebelumnya, pernyataan kebijakan hanya menyebutkan sedikit kemajuan lanjutan dalam mengurangi tekanan harga.

Sementara itu, pakar ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga Surabaya, Imron Mawardi, menjelaskan untuk mengatasi perlambatan ekonomi AS, Bank Indonesia harus menjaga kestabilan rupiah dan mengendalikan inflasi.

Saat ini, tambah Imron, pasar sedang menunggu data-data ekonomi AS, seperti PDB kuartal kedua dan tingkat inflasi. Ditambah lagi dengan situasi politik yang memanas setelah mundurnya Joe Biden, membuat investor lebih memilih menyimpan dana dalam bentuk dollar AS.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

DPR Merespons Berbagai Isu Terkini

40 menit yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
DPR Merespons Berbagai Isu ...
Luar Negeri
Presiden Marcos Jr Desak Pa...
Luar Negeri
Thaksin Shinawatra Diberi P...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.