Bangladesh Perpanjang Jam Malam
📅 Senin, 22 Jul 2024, 02:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Munir UZ ZAMAN
DHAKA - Pemerintah Bangladesh pada Minggu (21/7)memutuskan untuk memperpanjang jam malam untuk mengendalikan aksi protes dengan kekerasan yang dipimpin mahasiswa. Langkah tersebut diambil menjelang sidang Mahkamah Agung pada hari berikutnya mengenai kuota pekerjaan pemerintah yang memicu kemarahan.
Sebelumnya pada Sabtu (20/7), pemerintah Bangladesh mulai memberlakukan jam malam di seluruh negeri dan mengerahkan pasukan di tengah protes yang disertai kekerasan yang menyebabkan kematian sedikitnya 151 orang dan kerusakan yang amat luas di Ibu Kota Dhaka.
Jam malam diberlakukan sejak Jumat (19/7) malam dan akan tetap berlaku hingga Minggu (21/7) pagi ketika pihak berwenang akan meninjau situasi di negara Asia selatan tersebut.
Akibat kericuhan tersebut, jaringanbroadbanddan internet seluler telah dihentikan di seluruh negara sejak Kamis (18/7) lalu.
Seorang penduduk lokal dari luar Dhaka mengatakan kepadaAnadolumelalui telepon bahwa situasi di ibu kota masih tidak menentu dan tegang dengan adanya laporan bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Pemerintah tampaknya tidak bisa mengendalikan situasi," kata warga lokal itu yang enggan disebutkan namanya.
Lebih dari dua ribu orang terluka dalam perkelahian di seluruh negeri.
Aksi protes terhadap sistem kuota 56 persen dalam pekerjaan publik meningkat di negara Asia selatan itu pada pekan ini, seiring dengan penutupan lembaga pendidikan di seluruh Bangladesh oleh pemerintah. Namun, para mahasiswa menolak untuk meninggalkan kampus akademi dan kampus universitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sekitar 30 persen dari 56 persen kuota pegawai negeri sipil (PNS) negara tersebut diperuntukkan bagi putra dan cucu mereka yang berpartisipasi dalam perang pembebasan Bangladesh pada tahun 1971.
Pemerintah diperkirakan akan mengajukan banding pada Minggu ke Mahkamah Agung untuk mengurangi kuota menjadi 20 persen.
Pernyataan Kemlu RI
Terkait situasi ricuh di Bangladesh, Kementerian Luar Negeri dan KBRI Dhaka menyatakan terus memonitor situasi dan menjalin komunikasi dengan warga negara Indonesia (WNI) di Bangladesh, di tengah demonstrasi besar yang menuntut penghapusan sistem kuota penerimaan pegawai negeri (PNS) di negara itu.
"Hingga saat ini, per 21 Juli 2024, para WNI dalam keadaan selamat," kata Direktur Perlindungan WNI dan BHIKementerian Luar Negeri Indonesia, Judha Nugraha, melalui pesan singkat pada Minggu.
Judha menyebut dari total 563 WNI di Bangladesh, mayoritas adalah ibu rumah tangga yang menikah dengan warga negara Bangladesh.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!