Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Bangun Kemandirian Masyarakat

📅 Jumat, 19 Jul 2024, 10:20 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bangun Kemandirian Masyarakat Doc: ISTIMEWA

JAKARTA - Program bantuan sosial (bansos) pangan dinilai hanya menurunkan tingkat kemiskinan secara temporer alias semu. Tanpa kebijakan sistematis dan terstruktur, kelompok yang selama ini bergantung kepada bantuan pemerintah berpotensi kembali miskin.

Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Said Abdullah, memperingatkan apabila bantuan pangan dihentikan, potensi jatuh miskin lagi sangat besar. "Beda ceritanya jika upaya pengentasan kemiskinan dilakukan dengan menguatkan keberdayaan masyarakat. Keberdayaan dalam arti mendorong kemandirian masyarakat," ucapnya kepada Koran Jakarta, Kamis (18/7).

Di sisi lain, lanjut Said, bantuan ini juga bisa melahirkan kebergantungan sangat besar. Pada saat bersamaan, kemampuan masyarakat mengembangkan inovasi sangat rendah karena selalu berharap bantuan.

Senada, Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan penurunan tingkat kemiskinan akibat bansos atau bantuan pangan itu adalah semu. Terlebih lagi, standar pengukuran garis kemiskinannya terlalu rendah, semestinya lebih komperehensif.

"Penurunan ini (kemiskinan) semu karena kalau ada krisis dan gejolak harga bisa rentan naik lagi tingkat kemiskinannya," paparnya.

Kembali ke bantuan pangan/bansos, menurut Awan, berdampak sementara terhadap peningkatan konsumsi dan daya beli masyarakat miskin. Karena itu, harus ada kebijakan yang bisa membuat penurunan angka kemiskinan ini berlangsung lama, karena bansos disalurkan selama APBN kuat saja .

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa, menegaskan apabila Bapanas mengeklaim penurunan tingkat kemiskinan banyak disumbang oleh penyaluran bantuan pangan, artinya masyarakat sangat bergantung kepada bansos. "Baginya, jika begini terus maka tentu tidak produktif, baik dari sisi anggaran maupun juga dari sisi pemberdayaan masyarakat," ujarnya.

Kontribusi Besar

Seperti diketahui, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan program bantuan pangan beras turut andil sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan tingkat kemiskinan selama Maret 2023-Maret 2024. Dengan beras sejumlah 10 kilogram (kg) ke masing-masing Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tiap bulannya, mampu menjadi penyokong ekonomi masyarakat miskin.

Kepala Bapanas, Arief Prasetyo Adi, di Jakarta, Rabu (17/7), mengungkapkan dengan 10 kg beras berkualitas baik yang dikelola oleh Perum Bulog telah membantu sepertiga konsumsi beras suatu keluarga miskin.

"Bantuan pangan beras yang disalurkan sejak 2023 memang pemerintah yakini dapat menjadi bantalan ekonomi bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan. Setidaknya sepertiga kebutuhan berasnya telah terpenuhi. Bapak Presiden Joko Widodo juga menaruh perhatian yang besar pada kelancaran program ini," ujar Arief.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), pada Maret 2024, rerata rumah tangga miskin di Indonesia memiliki 4,78 orang. Dari itu jika dikaitkan dengan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS pada Maret 2023, rerata konsumsi beras per kapita dalam sebulan 6,650 kg pada 2023.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Toko-toko di Bordeaux bersi...
Luar Negeri
Kenaikan Harga BBM Picu Aks...
Megapolitan
Pasar pangan murah menjangk...

Trisakti Bantu Warga Duri Kosambi Olah Sampah

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Megapolitan
Trisakti Bantu Warga Duri K...

Hari Santri Nasional

1.5 jam yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.