Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Keren, UB Kembangkan Limbah Pisang dan Enceng Gondok untuk Cegah Gulma di NTT

📅 Jumat, 12 Jul 2024, 00:17 WIB | Oleh: Tim Penulis
Keren, UB Kembangkan Limbah Pisang dan Enceng Gondok untuk Cegah Gulma di NTT Doc: ANTARA/HO-Universitas Brawijaya
Ket. Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Dr. Rita Parmawati,SP, ME, IPU,ASEAN Eng., mengembangkan pita mulsa organik dari limbah pisang, enceng gondok dan daun paitan di Malang, Jawa Timur, Kamis (11/7/2024).

Surabaya - Dosen Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Dr. Rita Parmawati,SP, ME, IPU,ASEAN Eng., mengembangkan pita mulsa organik dari limbah pisang, enceng gondok dan daun paitan atau crotalaria sp untuk mencegah pertumbuhan gulma dan mengurangi laju evaporasi.

"Pita mulsa organik merupakan sebuah teknologi yang menggantikan mulsa dari plastik yang dianggap tidak ramah lingkungan karena tidak bisa terurai dengan baik," katanya di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.

Kelemahan penggunaan mulsa plastik terhadap pertumbuhan tanaman adalah menurunkan pertumbuhan dan hasil tanaman, meningkatkan serangan hama, meningkatkan kontaminasi mikroplastik, genangan air hilangnya struktur tanah dan mengurangi aktivitas mikroorganisme tanah.

Ia menjelaskan, teknologi baru ini akan diterapkan pada saat mendekati musim tanam kedua di Kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur (NTT) sebab di wilayah itu limbah pisang sangat melimpah.

"Oleh karena itu kita manfaatkan bersama enceng gondok dan daun paitan untuk dihancurkan, dicacah dan di cetak menjadi sebuah lembaran se lebar 25 cm," ujarnya.

Fungsinya, kata dia, untuk menekan pertumbuhan gulma dan mengurangi laju evaporasi sampai dengan 40 persen dan apabila terkena matahari maka pita mulsa organik akan terurai menjadi pupuk.

Saat ini proses penerapan pita mulsa dilakukan pada skala laboratorium dan sudah pada tahap sosialisasi pada Bupati Kabupaten Malaka dan beberapa gapoktan serta kepala dinas di lingkungan Kabupaten Malaka.

Rita menuturkan, alasannya memilih Kabupaten Malaka sebagai lokasi penerapan teknologi pita mulsa organik karena berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan pertanian di daerah tersebut masih rendah.

Produktivitas padi di daerah itu mulai 2020 sampai 2022 mengalami penurunan termasuk kesulitan dalam pasokan benih padi serta terdapat masalah pertanian lain seperti gulma, evaporasi, suhu tanah, dan sistem irigasi.

"Kami akan ke Malaka akhir Juli ini. Untuk proses pembuatan pita mulsa bagi lahan 10 hektar kami bekerja sama dengan pabrik mesin PT. Widjaya Teknik Indonesia (Witech)," kata Rita.

Untuk keberlanjutan penerapan teknologi, masyarakat akan dibimbing mengenai pembuatan pita mulsa organik mulai dari pengenalan bahan, mencacah, pembuatan bubur pita, pengeringan dan pengepresan sehingga mereka mampu memproduksi secara mandiri.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur   

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.