Negara Eropa Bagi Wilayah Afrika untuk Minimalkan Konflik
📅 Kamis, 04 Jul 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo Brono"Wilayah-wilayah ini sangat penting bagi Inggris dan kepentingan kolonialnya di India dan Tiongkok. Kemunculan dua kekuatan Eropa baru yang ingin mengembangkan reputasi internasional mereka juga akan mengilhami perebutan wilayah," terang Bailey.
Italia secara resmi bersatu pada tahun 1861 dan segera diikuti oleh Jerman pada tahun 1871. Kedua kekuatan itu ingin membangun status mereka di Eropa dan memulai usaha kejayaan mereka. Ada kepercayaan yang dipegang luas bahwa tidak ada negara yang dapat dianggap sebagai negara adikuasa jika tidak menguasai wilayah seberang laut manapun.
Awal tahun 1880-an menyaksikan peningkatan yang signifikan dalam ukuran wilayah Eropa di Afrika. Prancis mencaplok Tunisia pada tahun 1881 dan wilayah yang sekarang dikenal sebagai Republik Kongo pada tahun 1882.
Jerman menguasai Namibia, Togo, dan Kamerun pada tahun 1884. Pada tahun yang sama, Spanyol mengukir wilayah di Maroko. Perhatian Prancis dan Inggris segera tertuju pada Mesir, yang pemimpinnya, Ismail Pasha, mengalami kesulitan keuangan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kedua negara memiliki saham yang signifikan di Terusan Suez Mesir. Karena masalah ekonomi terus berlanjut, Inggris dan Prancis mengambil alih tanggung jawab atas ekonomi Mesir.
Pada tahun 1879, pemberontakan nasionalis melawan pengaruh asing dari Turki dan Eropa, yang dikenal sebagai Pemberontakan Urabi. Sebagai tanggapan, Inggris melancarkan invasi militer yang meluas. Pemberontakan itu akhirnya dipadamkan, dan Inggris mengambil alih kendali pemerintahan Mesir.
Konferensi Berlin
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada bulan November 1884, Kanselir Jerman, Otto von Bismarck, mengadakan konferensi di Berlin untuk membahas kolonisasi Afrika. Perwakilan dari 16 pihak menghadiri konferensi tersebut. Mereka adalah Jerman, Austria-Hongaria, Spanyol, Denmark, AS, Prancis, Inggris, Italia, Belanda, Portugal, Russia, Swedia-Norwegia, Kekaisaran Ottoman, dan perwakilan dari Kongo milik Raja Leopold dari Belgia.
Konferensi tersebut menetapkan aturan untuk kolonialisme Eropa dan memutuskan cara terbaik untuk membagi benua tersebut guna menghindari konflik di antara mereka sendiri. Khususnya, konferensi tersebut menetapkan prinsip pendudukan efektif yang menentukan bagaimana kekuatan Eropa dapat memperoleh wilayah baru.
Konferensi tersebut menegaskan bahwa negara-negara dapat memperoleh tanah jika mereka memiliki perjanjian dengan para pemimpin setempat, menancapkan bendera mereka di sana, dan membentuk pemerintahan untuk mengatur wilayah tersebut dengan pasukan polisi untuk menjaga ketertiban.
Konferensi Berlin juga mengakui wilayah kolonial yang ada saat ini, termasuk kepemilikan pribadi Raja Leopold II atas negara bebas Kongo. Bagi Jerman dan von Bismarck, menjadi tuan rumah Konferensi Berlin menandakan pengakuan status Jerman sebagai kekuatan yang besar.
Meskipun Konferensi Berlin memutuskan pembagian dan nasib Afrika, tidak ada perwakilan Afrika yang diundang untuk hadir. Konferensi Berlin membuka pintu gerbang bagi imperialisme Eropa. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!