Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Pengamat: Pelaksanaan Demokrasi yang Buruk Gambaran Kegagalan Elite

📅 Kamis, 20 Jun 2024, 10:16 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pengamat: Pelaksanaan Demokrasi yang Buruk Gambaran Kegagalan Elite Doc: Istimewa
Ket. Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi.

JAKARTA - Manajer Riset Seknas Fitra, Badiul Hadi mengatakan, demokrasi Indonesia secara prinsip sudah pada jalurnya, dimana kedaulatan rakyat menjadi hal yang utama.

"Evaluasi itu penting, namun jangan karena perilaku oknum elite yang tidak mencerminkan semangat demokrasi langsung saat ini (misalnya mengarah pada transaksional) kemudian sistem demokrasi yang disalahkan," ucap Badiul, Rabu (19/6), merespons pernyataan Ketua MPR RI Bambang Soesatyo terkait evaluasi sistem demokrasi.

Di sisi lain, lanjutnya, evaluasi demokrasi yang dilakukan harus ditujukan untuk memperbaiki, bukan sebaliknya diarahkan untuk mengganti sistem demokrasi langsung. "Jelas ini menegaskan kegagalan elite politik dalam menghadirkan demokrasi langsung yang bermartabat sesuai dengan nilai dan prinsip prinsip yang dianut oleh Bangsa Indonesia," tegasnya.

Badiul mengatakan, evaluasi demokrasi tidak boleh dijadikan alat untuk membawa bangsa ini mundur ke belakang, yang dimana sistemnya tidak lebih baik dari sistem demokrasi langsung yang selama ini sudah dijalankan, demokrasi yang mengakui kedaulatan rakyat.

Pendidikan politik harus jadi prioritas partai politik, kaderisasi menjadi alat untuk menggembleng kader dan memunculkan pemimpin yang baik. "Bukan justru sebaliknya, partai politik menafikkan proses kaderisasi dan mengedepankan pragmatisme politik, misalnya mencomot orang untuk dicalonkan dalam kontestasi karena pertimbangan elektabilitas dan mengabaikan kualitas kader yang ada," paparnya

Sebelumnya, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan evaluasi sistem demokrasi diperlukan untuk mencegah lahirnya pemimpin-pemimpin yang muncul dari sistem suap-menyuap yang tidak baik untuk keberlangsungan bangsa.

Menurut dia, sistem demokrasi langsung yang saat ini berlaku sudah memungkinkan terjadinya demokrasi transaksional dan salah satu faktor terpilihnya seorang pemimpin justru berdasarkan modal biaya dibandingkan dengan faktor lainnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Tim Piala Dunia, Mampukan Brasil Juara Keenam Kalinya?

20 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Tim Piala Dunia, Mampukan B...
Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

43 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.