Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Tjandra: Kedaulatan Negara Tetap Dijaga dalam Diskusi 'Pandemic Treaty'

📅 Kamis, 13 Jun 2024, 06:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Tjandra: Kedaulatan Negara Tetap Dijaga dalam Diskusi 'Pandemic Treaty' Doc: ANTARA/Prof.Tjandra Yoga Aditama
Ket. Profesor Tjandra Yoga Aditama.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Profesor Tjandra Yoga Aditama mengatakan negara-negara yang mengikuti diskusi kesepakatan pandemi yang difasilitasi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut bernegosiasi sambil berjuang agar kedaulatan negaranya tetap terjaga.

Dalam Kemencast #80Pandemic Treatyoleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang disiarkan di Jakarta, Senin (10/6), Tjandra mengatakan hal tersebut sebagai respons dari kekhawatiran warganet bahwa WHO memiliki campur tangan yang begitu besar sehingga mempengaruhi kedaulatan negara.

Dia menjelaskan WHO hanya memfasilitasi pertemuan tersebut dan masing-masing negara memiliki perspektifnya masing-masing dalam mencapai kesepakatan bersama. Meski demikian, lanjutnya, prinsip kesetaraan, solidaritas, serta transparansi, perlu diterapkan dalam diskusi tersebut.

"Pandemi itu adalah epidemi atau wabah yang terjadi di semua negara atau di sebagian negara. Artinya kalau ada 10 negara yang berhasil menyelesaikan penyakit itu, pandemi belum selesai karena ada sekian ratus negara belum selesai," ujar Tjandra.

Oleh karena itu ia menilai semua harus setara agar mendapat perlakuan yang sama dalam merespon pandemi di negaranya masing-masing, supaya pandeminya hilang. Dia menjelaskan dari 2005 hingga saat ini terdapat dua kali pandemi dan dalam keduanya dunia dinilai tidak siap menghadapinya. Menurutnya, tidak ada yang tahu kapan pandemi tersebut akan terjadi lagi, sehingga persiapan dan kesiapan perlu diperhatikan.

Menurut pakar epidemiologi, Profesor Wiku Adisasmito, kesepakatan bersama tersebut bertujuan untuk menyelamatkan dan mengamankan dunia, meskipun tidak semua negara punya kemampuan yang sama. Oleh karena itu, kata Wiku, prinsip-prinsip seperti solidaritas dan kesetaraan perlu dijunjung.

Dia menyebut dalam kesepakatan tersebut ada sejumlah pengaturan, antara lain siapa negara yang akan mengumpulkan patogen dan melakukan riset, pengaturan harga agar negara berkembang dapat membeli, serta pendanaan untuk produksi dan distribusi.

"Semua harus diatur. Karena kalau itu tidak diatur, berarti kan nanti kalau ada potensi pandemi, patogen yang jadi potensi pandemi, pasti ada negara yang nggak mampu untuk meresponnya," kata Wiku.

Wiku menilai tak hanya negara berkembang saja yang berisiko tak dapat merespon pandemi, namun negara maju juga punya risiko yang sama, atau juga lambat dalam responnya. Ant/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.