Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Wayang Ajarkan Nilai Kehidupan dan Falsafah Bangsa

📅 Minggu, 09 Jun 2024, 07:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Wayang Ajarkan Nilai Kehidupan dan Falsafah Bangsa Doc: ANTARA/Agatha Olivia Victoria
Ket. Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto saat memberi sambutan dalam acara wayangan di halaman Masjid At Taufiq, Sekolah Partai PDIP Lenteng Agung, Jakarta, Sabtu malam (8/6/2024).

Jakarta - Sekretaris Jenderal DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menyebutkan wayang mengajarkan nilai kehidupan dan falsafah bangsa, sebagaimana ajaran Proklamator RI Ir Soekarno atau Bung Karno.

"Ini menjadi bagian dari falsafah bangsa yang digali oleh Bung Karno melalui Pancasila, yang disampaikan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945," ujar Hasto dalam sambutan pada acara Wayangan Memperingati Bulan Bung Karno 2024 di halaman Masjid At Taufiq, Sekolah Partai PDIP Lenteng Agung, Jakarta, Sabtu malam.

Dirinya pun berharap para penonton dapat mengambil hikmah dari cerita wayang Pandu Swargo dan menerapkannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hasto lantas mengingatkan kembali perjalanannya bersama Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri ke Kota Ende, Nusa Tenggara Timur pada 1 Juni 2024.

Ende menjadi tempat pengasingan Bung Karno sejak tahun 1934-1938. Di tempat pengasingan yang terletak di pulau Flores itu, Bung Karno banyak merenung di sebuah taman, yang menghasilkan Pancasila.

Menurutnya, seorang Bung Karno bisa saja hidup mudah dan menjadi kaya dengan gelar insinyur. Tetapi, sambung dia, Bung Karno memilih berjuang demi rakyat Indonesia agar bisa merdeka, bersuara, dan berserikat mengatasi hukum-hukum kolonial yang menjajah kehidupan seluruh rakyat Indonesia kala itu.

Di Ende, kata dia, meski hidup dalam kesulitan, Bung Karno juga menolak ajakan untuk diselundupkan ke luar dan memilih menyatu dengan rakyat jelata.

Meski dengan berbagai kesulitan, sambung Hasto, Bung Karno tetap menegaskan komitmennya untuk tidak meninggalkan Ende, meski harus berkorban.

"Maka Bung Karno kemudian mengatakan, kita harus menyusun kekuatan karena ketika Belanda menyusun kekuatannya dengan mentega dan keju, Indonesia menyusun kekuatan dengan kesadaran rakyat agar benar-benar menggunakan kedaulatannya untuk bersatu melawan berbagai bentuk kezaliman dari hukum-hukum kolonial itu," tuturnya.

Dalam peringatan bulan Bung Karno yang mencakup 1 Juni Hari Lahir Pancasila, 6 Juni kelahiran Bung Karno, dan 21 Juni wafatnya Bung Karno, ia mengajak semua pihak untuk meneladani kehidupan dan perjuangan Bung Karno.

"Dengan itu kita punya energi perjuangan yang tidak akan pernah habis, seperti kata Ibu Megawati, bagaikan api perjuangan nan tak kunjung padam," ucap Hasto menambahkan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Liga Arab Kukuhkan Nabil Fahmy sebagai Sekjen

1.5 jam yang lalu | Deri Henriawan

Luar Negeri
Liga Arab Kukuhkan Nabil Fa...
Luar Negeri
Pemimpin Korut Bertekad Per...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.