Menyaksikan Rehabilitasi Mangrove di Desa Uwedikan
📅 Jumat, 31 Mei 2024, 06:25 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Istimewa
Setelah puas menikmati Pulau Dua, saat perjalanan pulang jangan lupa untuk singgah di Desa Uwedikan, Kecamatan Luwuk Timur, Kabupaten Banggai. Lokasinya berada di kiri jalan, menuju Kota Luwuk, ibu kota kabupaten ini.
Desa Uwedikan merupakan bagian dari ekosistem mangrove yang ada Kabupaten Banggai. Total luas mangrove di sini mencapai 7.387 hektare namun 5.652 hektare diantaranya rusak berat, sehingga perlu kesadaran semua pihak untuk merehabilitasi.
Di Kabupaten Banggai ditemukan 50 jenis mangrove, di antaranya 25 jenis mangrove sejati, dan 25 jenis mangrove asosiasi. Mangrove sejati merupakan jenis tanaman yang hidup didaerah pasang surut dan mampu menyerap zat garam sekaligus memiliki sistem adaptasi mengeluarkan kelebihan zat garam yang tidak dibutuhkan melalui batang dan daunnya.
Jenis tumbuhan yang termasuk dalam mangrove sejati yaitu Bakau (Rhizophora), Api-api (Avicennia), Pidada (Sonneratia), Tancang (Bruguiera), Tingi (Ceriops), Nyirih (Xylocarpus), Truntun (Aegiceras), Dungun (Heritiera), Nipah (Nypa fruticans).
Sedangkan mangrove asosiasi atau tumbuhan pesisir pantai, merupakan jenis tanaman yang mampu beradaptasi dengan ekosistem pantai namun yang menjadi pembeda dari mangrove sejati adalah ketidakmampuan mengeluarkan kelebihan zat garam dari dalam tubuh.
Sebaiknya Anda baca juga:
Contoh jenis tanaman asoset di antaranya Bintaro (Cerbera manghas), Rumput Lari (Spinifex littoreus), Waru (Thespesia populnea), Pandan (Pandanus tectorius), Ketapang (Terminalia catappa), Ketepeng (Ipomoea pes-caprae), Nyamplung (Calophyllum inophyllum), Bogem atau Butun (Barringtonia asiatica). Jenis tanaman ini mampu hidup di tanah berpasir dan menjadi perbatasan dengan daratan.
Uwedikan adalah salah satu contoh sadarnya masyarakat akan memperbaiki ekosistem yang rusak karena beberapa sebab seperti alih fungsi menjadi permukiman, dijadikan kayu bakar, pembuatan perahu, bangunan, dan kebutuhan lainnya.
Masyarakat Uwedikan sejak mulai sadar pentingnya mangrove bagi kehidupan mereka. Hingga 2019 sebanyak 10.000 bibit mangrove jenis Ceriops tagal ditanam. Selanjutnya penanaman mangrove di kawasan ini terus dilakukan oleh berbagai pihak.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kini masyarakat Uwedikan telah sadar dengan menjaga dan menanam mangrove. Sejak 2019 dan sebelumnya, pelan-pelan pesisir pantai desa ini telah ditumbuhi pohon mangrove. Mereka juga menyediakan ribuan bibit mangrove berbentuk kecambah jenis Ceriops tagal untuk ditanam.
Uwedikan sejatinya memiliki luas hutan mangrove mencapai 350 hektare. Namun karena ditebang untuk berbagai keperluan tersebut, sekitar 209 hektare rusak. Kini diantara yang rusak ini sedang telah dan sedang dalam proses rehabilitasi.
Penanaman mangrove terus dilakukan. Yang terbaru pada 2023 lalu jajaran TNI dan Polri Kabupaten Banggai melakukan penanaman 500 bibit mangrove sebagai bentuk sinergitas dan kepedulian terhadap lingkungan.
Mangrove yang memiliki akar yang kuat merupakan pelindung pantai dari abrasi dan gelombang tsunami. Tumbuhan ini sangat penting mencegah terjadinya bencana alam yang disebabkan oleh air laut.
Usaha berbagai pihak dalam menyelamatkan mangrove di Desa Uwedikan bisa menjadi contoh. Bagaimana kemajuan yang dilakukan semua pihak dan kesadaran masyarakat dalam menjaga tanaman dan bibit mangrove dari kerusakan bisa mampir ke desa ini. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!