Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Komitmen Atasi Masalah Air Minim

📅 Selasa, 21 Mei 2024, 06:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Komitmen Atasi Masalah Air Minim Doc: istimewa

JAKARTA - Ancaman krisis air semakin nyata di depan mata, terutama di beberapa negara. Ironisnya, anggaran global untuk mengatasi persoalan air sangatlah minim dan bahkan jauh lebih kecil dibandingkan dengan anggaran untuk modernisasi sistem persenjataan.

Ketua DPR RI, Puan Maharani, berharap seluruh negara yang hadir di forum air dunia atau World Water Forum di Bali memiliki kesadaran sama bahwa isu air adalah "sleeping crisis" yang harus ditangani dengan saling bergotong royong.

"Karena itu, langkah antisipatif dari berbagai multipihak termasuk parlemen dunia harus segera dilakukan," ungkap Puan di hadapan perwakilan parlemen dari 49 negara yang hadir saat pembukaan agenda Pertemuan Parlemen dalam rangka Forum Air Dunia ke-10 Tahun 2024 di Nusa Dua, Bali, Senin (20/5) dikutip dari laman resmi DPR RI.

Laporan UNICEF menunjukkan separuh populasi dunia berpotensi hidup di daerah yang rawan kekurangan air pada 2025. Satu dari empat anak di dunia berpotensi hidup dalam kondisi rawan air ekstrem pada 2040.

Tak hanya itu, FAO melaporkan sebanyak dua miliar manusia tetancam mengalami kelangkaan air absolut yang sulit dipulihkan. Bahkan, kelompok masyarakat yang paling rentan, wanita dan anak-anak akan paling terdampak mengalami kesengsaraan.

Dirinya menyayangkan sejumlah negara berlomba-lomba meningkatkan anggaran modernisasi anggaran persenjataan.

Berdasarkan laporan yang diterima, anggaran militer pada 2023 dinilai meningkat menjadi 2,4 triliun dollar AS. Sementara, studi terbaru Bank Dunia menyebutkan belanja sektor perairan sebesar 164 miliar dollar AS.

Tercatat, komitmen pendanaan negara maju untuk mengatasi perubahan iklim di negara berkembang adalah sebesar 100 dollar AS miliar per tahun. Berarti, belanja global untuk sektor air senilai kurang dari 10 persen belanja militer.

Puan menegaskan diplomasi parlemen harus segera berperan aktif untuk menurunkan tensi tekanan geopolitik global sehingga setiap negara bisa lebih fokus memperkuat dukungan antarnegara demi menyelamatkan masyarakat dunia dari krisis air.

Ketua Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR RI, Fadli Zon, yang juga Anggota Komite Eksekutif Inter-Parliamentary Union (IPU) menceritakan kondisi konflik geopolitik sekaligus krisis air terkini yang mendera di sejumlah negara.

Di belahan Suriah Barat Laut, pengungsi kesengsaraan panjang akibat tertutupnya akses air bersih dan aman akibat dampak konflik yang berkepanjangan.

Di sisi lain, perubahan iklim membawa dampak nyata terhadap sistem pertanian dan irigasi.

Sebagaimana dijelaskan Bank Dunia, Amerika Latin telah mengalami 74 kali kekeringan sehingga menyebabkan kerugian lebih dari 13 miliar dollar AS.

Asia Terdampak

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Daerah
Badan Geologi Laporkan Akti...
Advertisement
Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

Kalah dari Persija, Pelatih Persib Enggan Salahkan Satu-Dua Pemain

12 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.