Tangkoko, Jejak Kaki Russel Wallace di Sulawesi Utara
📅 Sabtu, 18 Mei 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoFlora dan Fauna Endemik
Kedatangan Wallace di Tangkoko, menjadikan kawasan ini ditetapkan pemerintah Hindia Belanda sebagai hutan lindung pada 1919, berdasarkan GB 21/2/1919 stbl. 90. Status ini dan diperluas pada 1978 dengan ditetapkannya Cagar Alam Duasudara (4.299 hektare) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 700/Kpts/Um/11/78.
Pada peringatan 100 tahun Tangkoko pada 21 Februari 2019, sesuai tanggal kehadirannya, pemerintah Kota Bitung meresmikan patung Alfred Russel Wallace. Patung itu dibangun sebagai penghormatan atas kontribusi Wallace bagi ilmu pengetahuan dan perlindungan hutan Tangkoko.
Wali Kota Bitung saat itu, Max Jonas Lomban, ketika meresmikan patung Alfred Russel Wallace menyatakan jika Wallace tidak datang ke tempat itu mungkin Belanda tidak menjadikannya sebagai hutan lindung bagi beragam spesies yang ada.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Kalau Wallace tidak datang, mungkin tidak ada Cagar Alam (Tangkoko). Tapi, Wallace memberi motivasi pada generasi sesudah dia," ujar dia ketika meresmikan patung Alfred Russel Wallace.
Kini Patung Wallace bertipeboss(setengah badan dari kepala ke dada tanpa lengan) berdiri megah di lokasi Cagar Alam Tangkoko Batuangus. Patung yang dicat dengan warna hitam pekat itu, menampakkan karakter kuat dari seorang tokoh terkenal di dunia konservasi.
Patung dengan tinggi 4,5 meter dan lebar 1,40 meter itu berada hanya sekitar 50 meter dari bibir pantai menghadap ke timur laut. Di tempat ini dengan mudah dijumpai monyet hitam Sulawesi (Macaca nigra) atauyang dikenal dengan nama Yaki, tanpa perlu masuk ke hutan di kawasan cagar alam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan luas 3.196 hektare, Cagar Alam Tangkoko Batuangus menjadi tempat perlindungan bagi fauna endemik Sulawesi yang sebagian dari mereka bisa dilihat di kebun binatang. Kawasan ini mempunyai dua puncak gunung yakni Tangkoko dengan tinggi 1.109 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan Batuangus 450 mdpl. Oleh karenanya tempat ini sering disebut dengan lengkap dengan nama Cagar Alam Tangkoko Batuangus.
Selain monyet hitam Sulawesi yang terkenal itu, ada juga tarsius (Tarsius spectrum), kuskus (Ailurops ursinus), rusa (Cervus timorensis), dan musang coklat (Macrogalidia musschenbroekii). Pada 1980 dicatat sejumlah 140 spesies burung, beberapa spesies endemik Sulawesi yang ada adalah rangkong (Rhyticeros cassidix) dan maleo (Macrocephalon maleo).
Dengan curah hujan rata-rata sebesar 2.500 - 3.000 milimeter per tahun dan suhu rata-rata 20-25 derajat Celsius, di dalam kawasan ini terdapat dua jenis ekosistem yaitu hutan hujan dan hutan lumut dengan tumbuhan berbeda.
Di ekosistem hutan hujan yang lebih rendah tumbuh pohon beringin (Ficus spp), aras (Duabanga moluccana), nantu (Palaquium obtusifolium). Sedangkan pada ekosistem hutan lumut tumbuh edelweis (Anaphalis javanicum), dan kantong semar (Nepenthes gymnamphora). Total ada 71 flora endemik yang ada di sini.
Di dalam kawasan cagar alam, pohon-pohon tersebut sudah berusia ratusan tahun. Di era digital, penjelasan tentang pohon yang ada sudah canggih. Tinggal memindaibarcodedari ponsel pintar, pengunjung dapat membaca keterangan pohon yang dimaksud.
Sebagai tempat wisata minat khusus, tiket masuk ke Cagar Alam Tangkoko Batuangus ini lumayan tinggi. Namun demikian dengan tiket ini pengunjung mendapatkan fasilitas pemandu atauguideyang akan menerangkan beragam flora dan fauna spesies khas Sulawesi seperti digambarkan Wallace. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!