Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Belanja Negara dari Utang Harus Sasar Program Ekonomi Masyarakat Bawah

📅 Kamis, 16 Mei 2024, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Belanja Negara dari Utang Harus Sasar Program Ekonomi Masyarakat Bawah Doc: Sumber: Bank Indonesia – Litbang KJ/and - KJ/ONES

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat utang luar negeri (ULN) Indonesia pada triwulan I-2024 tercatat sebesar 403,9 miliar dollar Amerika Serikat (AS) turun dibandingkan dengan triwulan IV-2023 yang tercatat sebesar 408,5 miliar dollar AS.

Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono, dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (15/5), mengatakan penurunan posisi ULN itu bersumber dari ULN sektor publik maupun swasta. Dengan perkembangan tersebut, ULN Indonesia secara tahunan mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 0,02 persen (yoy), setelah tumbuh 3 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya.

Erwin mengatakan ULN pemerintah pada triwulan I-2024 mencapai 192,2 miliar dollar AS, turun dibandingkan dengan posisi triwulan sebelumnya sebesar 196,6 miliar dollar AS.

"Secara tahunan, ULN pemerintah terkontraksi sebesar 0,9 persen (yoy), setelah tumbuh 5,4 persen (yoy) pada triwulan sebelumnya," katanya.

Penurunan posisi ULN pemerintah itu terutama dipengaruhi oleh perpindahan penempatan dana investor nonresiden pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik ke instrumen investasi lain seiring dengan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.

"Pemerintah berkomitmen tetap menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara fleksibel dan oportunistik dalam aspek timing, tenor, currency, dan instrumen untuk mendapatkan pembiayaan yang paling efisien dan optimal," katanya.

Sebagai salah satu komponen dalam instrumen pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemanfaatan ULN terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor produktif serta belanja prioritas pemerintah yang utamanya mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan porsi 21,1 persen, administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 18,3 persen, jasa pendidikan 16,9 persen, konstruksi 13,7 persen serta jasa keuangan dan asuransi 9,6 persen.

Direktur Eksekutif Indef, Esther Sri Astuti, mengatakan pemerintah dan BI harus menyadari kalau rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar 38 persen. Kondisi itu sebagai pertanda harus aware karena ruang fiskal makin sempit, kecuali bisa menaikkan penerimaan negara.

"Ruang fiskal yang terbatas ini karena beban utang dan bunganya meningkat, sementara penerimaan pajak (tax ratio) terus berkurang," tegas Esther.

Oleh karena itu, pembiayaan pembangunan harus dialokasikan kepada program-program prioritas yang bermanfaat bagi banyak kalangan dan benar-benar mengungkit pertumbuhan ekonomi.

Anggaran yang bersumber dari utang juga harus lebih banyak menyasar program-program yang menggerakkan ekonomi masyarakat bawah. Tujuannya agar utang tersebut produktif, tidak konsumtif.

Selain itu, investasi juga harus diarahkan ke sektor padat karya. Investasi, jelas Esther, harus mendorong penciptaan lapangan pekerjaan sehingga meningkatkan income per capita. Dengan meningkatnya pendapatan maka akan memperbesar peluang untuk memperoleh pendapatan negara dari pajak karena pendapatan masyarakat naik.

Asing Tinggalkan SBN

Pada kesempatan yang berbeda, Guru Besar Fakultas Bisnis dan Ekonomi (FBE) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Aloysius Gunadi Brata, mengatakan kondisi itu bisa menjadi indikasi bahwa ada ketidakyakinan asing untuk berinvestasi di SBN. Kalau itu berlanjut, merupakan sinyal tergerusnya kepercayaan investor asing. Setidaknya, investor asing mengalihkan portofolionya ke instrumen investasi lain yang lebih prospektif atau yang memberikan hasil lebih tinggi.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Luar Negeri
Korsel Usulkan Dialog denga...
Luar Negeri
PBB Serukan Negara-negara T...

Wabah Ebola Tewaskan Lebih dari 4.000 Warga di Kongo

33 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Wabah Ebola Tewaskan Lebih ...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.