Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Akurasi Data Buruk, Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Belum Ada Hasil

📅 Kamis, 16 Mei 2024, 00:02 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Akurasi Data Buruk, Pengentasan Kemiskinan Ekstrem Belum Ada Hasil Doc: Sumber: BPS - KORAN JAKARTA/ONES

JAKARTA - Dampak dari berbagai implementasi program penurunan kemiskinan ekstrem yang dicanangkan pemerintah selama ini belum kelihatan hasilnya. Hal itu disebabkan oleh belum adanya daerah sampel yang sudah menetapkan target Pensasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem (P3KE) tahun 2023.

Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Tirta Sutedjo, mengungkapkan bahwa hasil evaluasi integrasi program P3KE tahun 2023 menunjukkan tiga dari lima daerah sampel yang dikunjungi sedang melakukan verifikasi dan validasi. Baru satu di antaranya yang menetapkan sasaran pada 2023.

Adapun sejumlah lokasi yang menjadi tempat kegiatan evaluasi, yaitu di Garut, Jawa Barat; Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT); Palembang, Sumatera Selatan, lalu di Kediri, Jawa Timur; di Minahasa Sulawesi Utara. "Jadi, bagaimana dampak dari implementasi program-program penurunan kemiskinan ekstrem ini belum kelihatan," ungkapnya.

Dari hasil diskusi dengan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah (pemda), persoalan data yang belum akurat membuat intervensi pemerintah untuk melaksanakan berbagai program penurunan kemiskinan ekstrem kurang tepat sasaran.

Masyarakat Bawah

Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, yang diminta pendapatnya, mengatakan akurasi data kemiskinan yang buruk jelas akan menghambat program pengentasan kemiskinan. Sebab, data sangat dibutuhkan untuk perencanaan program dan anggaran, serta pelaksanaan dan penyaluran program.

"Untuk memutus lingkaran setan kemiskinan ini pemerintah harus aktif melakukan intervensi dengan program-program. Pemerintah harus aware akan kebutuhan yang sesuai bagi masyarakat kelas bawah.

Langkah paling realistis, jelasnya, dengan memberi subsidi berupa aset. Kalau dana modal cepat habis, tapi aset lebih sustainable sehingga lebih cocok untuk memutar perekonomian kaum menengah ke bawah. "Tapi, bagaimanapun pembagian subsidi juga harus didukung proses pendataan yang valid. Kalau data tidak up to date, subsidi bisa salah sasaran. Hasilnya memang ada, namun tidak akan efektif karena tidak mengubah struktur ekonomi secara signifikan," jelas Bagong.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, mengatakan data yang tidak akurat menyebabkan berbagai program hasilnya tidak efektif dan tidak tepat sasaran, bahkan salah sasaran dan berpotensi dimanipulasi dari hulu sampai hilir.

Persoalan ketidakakuratan data biasa mulai dari desain kuesioner, tenaga lapangan yang tidak mengamati dan menemui responden karena berbagai alasan seperti medan, sulit menemui responden, bahkan unsur kesengajaan untuk kemudahan dirinya.

Sementara pada level desa, sering kali unsur kedekatan dengan perangkat desa, menyebabkan ketidaktepatan sasaran. "Monitoring dan evaluasi menjadi kunci pada setiap lapisan pengumpulan data," tegas Suhartoko.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...

Sekjen PBB Soroti Tantangan Lonjakan Populasi Lansia

30 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Luar Negeri
Sekjen PBB Soroti Tantangan...
Nasional
Menbud Optimistis Batik Ind...

Janice Tjen Tersingkir dari China Open

56 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Olahraga
Janice Tjen Tersingkir dari...
Advertisement
Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

Antrean Menyusut Jadi 0,5 Kilometer, Layanan Ketapang–Gilimanuk Makin Terkendali

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.