Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

PBB Lawan Pembajakan Biologis

📅 Selasa, 14 Mei 2024, 02:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
PBB Lawan  Pembajakan Biologis Doc: WIPO
Ket. Ketua WIPO, Daren Tang

JENEWA - Perampasan pengetahuan tradisional seputar sumber daya genetik akan jadi fokus pembahasan PBB selama dua pekan yang dimulai pada Senin (13/5) untuk mengakhiri apa yang disebut pembajakan biologis.

Setelah lebih dari 20 tahun melakukan negosiasi, Organisasi Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO) yang berada di bawah naungan PBB berharap dapat mencapai kesepakatan yang akan melindungi pengetahuan tersebut dari eksploitasi dengan menegakkan transparansi yang lebih besar dalam sistem paten.

"Ini adalah momen bersejarah," kata ketua WIPO, Daren Tang, ketika lebih dari 190 negara anggotanya berkumpul di markas besarnya di Jenewa untuk melakukan pembicaraan yang berlangsung hingga 24 Mei mendatang.

"Ini tentang memerangi pembajakan hayati, artinya penggunaan pengetahuan tradisional atau sumber daya genetik tanpa persetujuan dari pihak yang memilikinya dan tanpa mereka dapat mengambil manfaat darinya," kata Christophe Bigot, yang memimpin delegasi Prancis.

Meskipun sumber daya genetik alami seperti yang ditemukan pada tanaman obat, tanaman pertanian, dan ras hewan tidak dapat secara langsung dilindungi sebagai hak milik internasional, penemuan yang dikembangkan dengan menggunakan sumber daya tersebut dapat dipatenkan.

Sumber daya ini semakin banyak digunakan oleh perusahaan dalam segala hal mulai dari kosmetik hingga benih, obat-obatan, bioteknologi, dan suplemen makanan.

Organisasi non-pemerintah mengutip kasus tanaman maca dari Peru, hoodia dari Afrika Selatan dan nimba dari India. Meski sulit, ada kemenangan yang diraih, seperti halnya Mimba. Pada 1995, khasiat pohon ini yang telah digunakan di India selama ribuan tahun dalam bidang pertanian, obat-obatan dan kosmetik, menjadi subyek serangkaian paten yang diajukan khususnya oleh perusahaan kimia raksasa AS, WR Grace.

Setelah 10 tahun berjuang, Kantor Paten Eropa menarik patennya untuk pertama kalinya atas dasar pembajakan biologis.

Rancangan perjanjian WIPO menetapkan bahwa pemohon paten akan diminta untuk mengungkapkan dari negara mana sumber daya genetik dalam suatu penemuan berasal, dan masyarakat adat yang memberikan pengetahuan tradisional terkait.

Penentang perjanjian ini khawatir hal itu akan menghambat inovasi. Namun para pendukungnya mengatakan persyaratan pengungkapan tambahan akan meningkatkan kepastian hukum, transparansi dan efisiensi dalam sistem paten. AFP/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Sistem Pilkada Perlu Direformasi

30 menit yang lalu | Ones

Nasional
Sistem Pilkada Perlu Direfo...
Daerah
Tingkatkan Kinerja, Pemkot ...

Wisatawan Mancanegara Ikut Berbelanja ke Pasar Tanah Abang

42 menit yang lalu | Marcellus Widiarto

Megapolitan
Wisatawan Mancanegara Ikut ...
Luar Negeri
Kedubes Desak Warga AS Ting...

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

Gawat Terus Bertambah! Jumlah Migran Tewas Saat Masuki Ceuta dari Maroko Capai 90 Orang

02 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.