Liverpool, Pusat Perdagangan Budak di Eropa
📅 Jumat, 10 Mei 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoDilihat dari ruang dan waktu yang sangat luas, perdagangan transatlantik merupakan migrasi paksa maritim terbesar dalam sejarah. Selang waktu (timelapse) terbaru dari Radburn dan Eltis menangkap ukuran dan kompleksitas perdagangan budak dalam satu video dari 1515 hingga 1866.
Jadi,timelapseadalah teknik fotografi untuk menghasilkan video klip pendek dari sekumpulan foto pada satu objek sama dalam interval waktu yang konstan. Melihattimelapsesecara keseluruhan mengungkapkan betapa cepatnya perdagangan budak berkembang pada abad ke-17 dan ke-18.
Sebelumnya perdagangan budak relatif kecil. Praktik ini hanya dilakukan oleh dua negara perintis kolonialisme yaitu Spanyol dan Portugis. Namun perdagangan ini akhirnya meledak setelah 1650 ketika pedagang Inggris, Belanda, Prancis, dan Denmark memasuki bisnis tersebut.
Jumlah kapal yang melintasi Atlantik setiap tahunnya pada abad ke-18 sangatlah mengejutkan dalam beberapa dekade sebelum tahun 1807. Dalam beberapa tahun terdapat lebih dari 100.000 orang yang diangkut dari Afrika setiap tahunnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berfokus pada 5.000 pelayaran ke Liverpool menunjukkan bagaimana kota itu membantu mendorong pertumbuhan fenomenal perdagangan budak. Kapal budak pertama meninggalkan Liverpool pada 1696, namun bisnis tersebut meledak hanya setelah 1740, ketika para pedagang kota secara agresif mencari pasar budak baru di pesisir Afrika.
Jumlah kapal budak yang meninggalkan Liverpool meningkat setiap tahun sejak 1696. Angkanya sempat menurun karena disela oleh perang berkala. Pada akhir abad ke-18, Liverpool menyumbang 46 persen dari seluruh perdagangan budak transatlantik.
Diakui oleh Radburn dan Eltis bahwatimelapsetidak banyak menjelaskan pengalaman para budak Afrika di penyeberangan Atlantik. Namun, seperti yang kedua orang itu katakan baru-baru ini, gambar tersebut sangat cacat karena gagal menunjukkan jumlah sebenarnya orang yang diangkut atau kondisi yang mereka alami di Jalur Tengah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk lebih menangkap pengalaman perdagangan budak di Afrika, Radburn dan Eltis membuat model tiga dimensi (3D) kapal budak Perancis, L'Aurore. Kapal ini adalah satu-satunya kapal budak yang rencana detailnya masih ada.
Meskipun merupakan kapal Prancis, model kapal itu secara akurat menggambarkan fitur-fitur yang dapat ditemukan pada kapal-kapal Liverpool. Terdapat tembok yang dibangun untuk memisahkan pria dan perempuan dengan kondisi sempit yang membuat orang-orang Afrika terjebak di bawah dek pada malam hari, sementara orang-orang Eropa yang memperbudak berada di atas dek kapal.
Orang-orang yang diperbudak akan mengalami kondisi ini selama sepuluh pekan penyeberangan Atlantik, dan selama beberapa bulan kapal dapat berlabuh di lepas pantai Afrika.
Liverpool menikmati hasil perdagangan budak dari penjualan sebanyak 1,1 juta pria, perempuan, dan anak-anak. Uang ini membantu mengubah kota tersebut menjadi kota metropolitan yang berkembang pesat pada akhir abad ke-18. Para pedagang budak menggunakan keuntungan mereka untuk membangun jalan-jalan baru, yang sering kali mereka beri nama sesuai nama mereka sendiri.
Jalan Tarleton, Jalan Earle, Jalan Parr dan Jalan Cunliffe semua jalan yang bisa dilalui orang saat ini, memuat nama-nama pedagang yang secara kolektif memperbudak 134.000 orang Afrika. Jalan-jalan dI Liverpool ini mungkin akan segera menjadi kenangan bagi ratusan ribu orang yang dengan gagah berani, namun tidak berhasil, memperjuangkan kebebasan mereka. hay/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!