Qantas akan Bayar Denda Rp1 Triliun Setelah Skandal 'Penerbangan Hantu'

Senin, 06 Mei 2024, 09:28 WIB

SYDNEY - Maskapai penerbangan Australia Qantas setuju untuk membayar denda sebesar 100 juta dollar Australia (66 juta dollar AS) atau lebih dari Rp1 triliun pada Senin (6/5), setelah skandal "penerbangan hantu".

Pengawas persaingan usaha Australia mengatakan Qantas "mengakui bahwa mereka menyesatkan konsumen" dengan mengiklankan kursi di puluhan ribu penerbangan - meskipun penerbangan tersebut dibatalkan.

Ket. Foto: Qantas terus menjual tiket pada beberapa penerbangan yang telah dibatalkan. — Sumber: ABC News/Chris Gillette

Qantas juga akan membayar 13 juta dollar AS sebagai kompensasi kepada 86.000 calon penumpang yang terkena dampak pembatalan dan kegagalan penjadwalan ulang.

"Tindakan Qantas sangat buruk dan tidak dapat diterima," kata Ketua Komisi Persaingan dan Konsumen Australia, Gina Cass-Gottlieb.

"Banyak konsumen yang membuat rencana liburan, bisnis, dan perjalanan setelah memesan penerbangan hantu yang dibatalkan."

Qantas mengatakan, dalam beberapa kasus, pelanggan memesan penerbangan yang telah dibatalkan "dua atau lebih" hari sebelumnya.

Kepala eksekutif Qantas Vanessa Hudson mengatakan maskapai "mengecewakan pelanggan dan tidak memenuhi standar kami".

"Kami tahu banyak pelanggan kami yang terkena dampak dari kegagalan kami memberikan pemberitahuan pembatalan tepat waktu dan kami dengan tulus meminta maaf," katanya dalam sebuah pernyataan.

Denda sebesar 66 juta dollar AS harus mendapat persetujuan pengadilan.

Maskapai penerbangan nasional Qantas yang telah lama dijuluki sebagai "Spirit of Australia" (Semangat Australia) telah menjalankan misi untuk memperbaiki reputasinya.

Maskapai ini menghadapi reaksi konsumen yang dipicu oleh melonjaknya harga tiket, klaim layanan yang ceroboh, dan pemecatan 1.700 staf lapangan selama pandemi Covid-19.

Qantas sebelumnya membela penjualan kursi pada penerbangan yang dibatalkan.

Mereka berargumen bahwa alih-alih membeli tiket untuk kursi tertentu, pelanggan membeli "sekumpulan hak" dan janji bahwa maskapai penerbangan akan "melakukan yang terbaik untuk mengantarkan konsumen ke tempat yang mereka inginkan tepat waktu".

Qantas membukukan laba tahunan sebesar 1,1 miliar dollar AS pada tahun lalu, membatasi pemulihan finansial besar-besaran setelah turbulensi perjalanan selama tahun-tahun Covid.

Kepala eksekutif veteran Alan Joyce mengumumkan pensiun dini di tengah rentetan kritik pada bulan September tahun lalu.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.