Oro-oro Kesongo, Fenomena Gunung Lumpur di Zona Perbukitan Kapur
📅 Sabtu, 04 Mei 2024, 06:10 WIB | Oleh: Haryo BronoJarak letusan Oro-oro Kesongo, antara satu erupsi dengan yang lain dapat berlangsung berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Pada Oktober 2020, letupannya berupa semburan lumpur cair setinggi 20 meter lebih secara terus-menerus selama setengah jam. Semburan ini disertai dengan pelepasan gas beracun dan lumpurnya menimbun 17 ekor kerbau yang tengah digembalakan di lapangan tersebut.
Letusan lainnya terjadi pada pada 27 Agustus 2020. Korbannya adalahbelasan ekor kerbau yang sedang digembalakan di area ini. Sedangkan empat warga dilaporkan mengalami keracunan gas beracun yang dikeluarkan.
Letusan kembali terjadi pada 11-12 April 2023. Dalam dua hari itu dilaporkan letusannya mencapai 12 kali menyebabkan 1 orang meninggal. Letusannya mengeluarkan gas beracun yang mengakibatkan 1 orang penggembala kerbau meninggal dunia.
Sebelumnya menurut ingatan warga Gunung Lumpur Kesongo pernah meletus pada 2013 dan 2009. Kandungan gas metan yang beracun di Gunung Lumpur Kesongo mencapai 78persen mol menurut laporanBurhanuddinnur(2019), dengan lumpur yang dominasi oleh lempung jenis illit dan kaolinit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Zulfikar Fahimul AuliaHadi, mahasiswa Jurusan Geologi Universitas Pertamina menyebutkan kawah Gunung Lumpur Kesongo memiliki diameter 1,3 kilometer. Ketika meletus tinggi semburan dapat mencapai 15 meter.
Fenomena Jamak
Dalam pandangan Salahuddin, kemunculan bagian tengah Pulau Jawa bagian timurberupa gunung lumpur adalah fenomena yang jamak. Gunung Lumpur Kesongo merupakan bagian dar Kompleks Gunung Lumpur Kradenan. Di kompleks ini muncul gunung lumpur lain muncul pada area yang luas, seperti Kuwu, Medang, Crewek, Cangkingan, Medang dan Banjar Lor.
Sebaiknya Anda baca juga:
Ke arah timur, gunung lumpur lain bermunculan, Denanyar, Gresik, Dawarblandong, Penganson, Sidoarjo (Lusi), Porong, Gunung Anyar, Kali Anyar, Pulungan, hingga ditemukan di dasar Selat Madura.
"Gunung lumpur ataumud volcanoesadalah fenomena lazim pada cekungan sedimentasi yang mengalami pengendapan secara cepat dan pada daerah yang secara tektonik aktif," tulisan Salahuddin pada laman resmi FT UGM.
Dengan menggunakan data seismik eksplorasi migas, terhitung laju pengendapan Formasi Tawun yang kaya kandungan lumpur mencapai 700 meter per juta tahun. Ini merupakan nilai paling tinggi untuk kawasan sekitar, demikian pula dengan deformasi tektonik yang dialami formasi tersebut yang mencapai rasio regangan 0,7, juga merupakan angka tertinggi di kawasan tersebut.
"Meski gempa bumi besar jarang terjadi, tercatat beberapa gempa bumi kecil (skala intensitas ≤ 3) pernah terjadi beberapa tahun silam," kata dia.
Menurut Salahuddin, Gunung Lumpur Kesongo sendiri terletak di Zona Perbukitan Rembang Selatan, pada puncak struktur antiklin Gabus.Tekanan kompresif dari patahan-patahan anjak tersebut memengaruhi kekuatan batuan di sekitarnya, terlebih bagi lapisan-lapisan lumpur yang masih lunak dan belum membatu di Formasi Tawun.
Getaran-getaran dan gempa-gempa yang merambat melalui patahan dan batuan, akan semakin memperbesar tekanan yang diterima oleh lapisan lumpur, menyebabkan semakin berkurangnya kekuatan geser antar butiran lumpur. Hal ini memaksa dan mendorong mereka untuk bergerak ke atas menuju tekanan yang lebih rendah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!